Sabtu, 25 Mei 2019

TRADISI PUNGGAHAN SEBAGAI PENYAMBUTAN RAMADHAN DI DESA BONOROWO, KEBUMEN, JAWA TENGAH



Endah Kusuma Rini (2017015215)
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

ABSTRAK
Kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan penting diantara kebudayaan daerah lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik pada masa lampau maupun saat ini. Dalam kebudayaan dan kehidupan Jawa terkandung nilai-nilai yang menjadi pedoman dan pegangan hidup bermasayarakat. Masyarakat Islam dalam memperingati Bulan Suci Ramadhan, seringkali melakukan suatu kebiasaan untuk menyambut bulan tersebut. Masyarakat Desa Bonorowo ini melaksanakan salah satu kebiasaan yang ada yakni penyambutan datangnya Bulan Suci Ramadhan yang disebut dengan punggahan. Punggahan merupakan sebuah tradisi penyambutan Bulan Suci Ramadhan dengan serangkaian acara yaitu berseh diri, berseh makam, dan kenduri(punggahan) dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dengan mengirimkan doa baik bagi para leluhur, anak cucu, maupun cikal bakal Desa Bonorowo. Punggahan dilaksanakan di kediaman juru kunci sebagai sesepuh yang dituakan oleh masyarakat Desa Bonorowo. Dalam pelaksaannya, masyakarat dianjurkan duduk melingkar kemudian dilaksanakannya prosesi doa, dan pembagian tumpeng. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dan menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara, dan sumber sekunder yang berdasarkan kajian literature seperti jurnal, buku, dll. Dalam penelitian ini, penulis mencoba menceritakan dan menjelaskan bagaimana prosesi punggahan di Desa Bonorowo. Selanjutnya, peneliti juga akan mengungkapkan makna ubarampe (alat, barang) yang digunakan, serta nilai-nilai budaya atau pendidikan yang dapat dipetik dari tradisi punggahan tersebut.
Keyword: Punggahan, berseh, dan ubarampe


PENDAHULUAN
Kebudayaan adalah buah budi manusia berupa cipta, rasa, dan karsa manusia (masayakat). Karya yang dihasilkan dapat berupa ide, benda, kesenian, maupun lainnya. Kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai keseluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan serta kebiasaan yang terdapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Masyarakat dan kebudayaan sangat erat hubungannya. Masyarakat merupakan orang yang hidup berkelompok atau bersama yang dapat menghasilkan kebudayaan. Masyarakat sebagai tempat berkembangnya suatu kebudayaan yang ada. Terdapat berbagai suku di Indonesia, yang mana masing-masing memiliki bahasa, identititas, dan tradisi yang berbeda-beda. Diantaranya suku Jawa yang berada pada Masyarakat Desa Bonorowo, Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.
Tradisi merupakan suatu pola kebiasaan yang melahirkan kebudayaan dalam sekelompok masyarakat. Kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan penting diantara kebudayaan daerah lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik pada masa lampau maupun saat ini. Dalam kebudayaan dan kehidupan Jawa terkandung nilai-nilai yang menjadi pedoman dan pegangan hidup bermasayarakat.
Masyarakat Indonesia mayoritas menganut agama Islam. Dimana, masyarakat diwajibkan untuk melakukan perintah dan menjauhi larangan yang diatur dalam ajarannya. Dalam kehidupan sehari- hari, manusia diwajibkan menaati beberapa hal seperti mengucapkan syahadat, sholat, puasa, zakat, dan naik haji bagi yang mampu. Selain hal tersebut juga terdapat banyak hal yang dapat dilakukan agar menambah pahala atau seringkali disebut dengan sunnah. Terlepas dari hal tersebut, manusia akan dipertemukan oleh Bulan Suci Ramadhan, dimana manusia diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah, berkah, dan memiliki kedudukan yang Agung diantara bulan-bulan lainnya.
Masyarakat Islam dalam memperingati Bulan Suci Ramadhan, seringkali melakukan suatu kebiasaan untuk menyambut bulan tersebut. Masyarakat Desa Bonorowo ini melaksanakan salah satu kebiasaan yang ada yakni penyambutan datangnya Bulan Suci Ramadhan yang disebut dengan punggahan.
Dalam pelaksaannya, masyakarat dianjurkan duduk melingkar kemudian dilaksanakannya prosesi doa, dan pembagian tumpeng. Berbeda dengan tradisi ramadhan lainnya, tumpeng dalam acara ini disebut dengan ambeng tumpeng sekul suci sakumplite, yaitu nasi berbentuk tumpeng yang dikelilingi lauk pauk seperti ingkung, telur rebus, tempe goreng, dan kerupuk, dan ada juga aneka sayur seperti sayur lombok(berongkos), mie, dan kacang, serta dilengkapi dengan kerupuk/peyek, apem, ketan, jenang abang, jenang putih, pasungdan pisang.
Tradisi diatas merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan setiap tahunnya, yang mana di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur dan kearifan budaya yang menjadi ciri khas daerah setempat. Berdasarkan hal tersebut, penulis ingin menggali lebih mendalam mengenai tradisi punggahan pada Desa Bonorowo dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan terkait prosesi, ubarampe, makna tersirat,  dan nilai-nilai budaya/ pendidikan yang ada pada tradisi tersebut.

PEMBAHASAN
A.    Prosesi Tradisi Punggahan
Punggahan adalah suatu tradisi yang diselenggarakan pada akhir bulan ruwah, berfungsi untuk mengantarkan arwah munggah (naik kembali ke asalnya) dengan mengirimkan doa-doa oleh setiap keluarga yang ditinggalkannya. Selain itu, punggahan juga dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan suka cita dalam menyambut bulan ramadhan. Tradisi punggahan ini dilakukan oleh sesepuh/ juru kunci masyarakat setempat yang menggelar sebuah syukuran berupa kenduri sebagai lambang rasa syukurnya kepada Alloh SWT. Kenduri dilaksanakan setelah warga menyelesaikan prosesi berseh diri dan berseh makam yang dilaksanakan pada sore hari.
Berseh diri yakni membersihkan diri dari segala kotoran serta membersihakan diri secara batin guna menyambut bulan yang suci. Berseh diri biasanya dilakukan dengan mandi keramas serta saling memaafkan antara satu sama lain sehingga saat Bulan Suci Ramadhan tiba, setiap orang sudah bersih secara lahir maupun batinnya dan siap untuk menabung pahala sebanyak mungkin pada bulan yang suci ini.
Berseh makam, dilaksanakan setelah berseh diri dilakukan. Masyarakat Desa Bonorowo ini, beramai-ramai mengunjungi makam dengan membawa alat bersih-bersih seperti arit, sapu, dan lainnya dimaksudkan untuk membersihkan makam-makam para saudara, leluhur, dan lainnya dari daun-daun yang berjatuhan maupun dari rumput- rumput liar yang tumbuh disekitar makam.
Setelah berseh diri dan berseh makam dilakukan, selanjutnya warga Desa Bonorowo menghadiri kenduri(punggahan) yang dilaksanakan pada kediaman sesepuh/ juru kunci. Adapun ubarampe dalam kenduri yaitu ambeng tumpeng sekul suci sak kumplitane yang berisi nasi (berbentuk tumpeng), lauk pauk seperti ingkung, telur rebus, tempe goreng, kerupuk, dan ada juga aneka sayur seperti sayur lombok(berongkos), mie, dan kacang, serta dilengkapi dengan kerupuk/peyek, apem, ketan, jenang abang, jenang putih, pasung dan pisang yang mengelilingi tumpeng tersebut. Masing-masing ubarampe memiliki makna yang berbeda- beda, namun digunakan dalam tradisi yang sama.
Ubarampe tersebut dibagikan secara merata pada masing-masing orang yang melaksanakan kenduri. Dalam pembagiannya, biasanya dilakukan oleh saudara-saudara dari sesepuh/ juru kunci tersebut. Hal ini dimaksudkan agar dalam pembagiannya dapat dibagi secara adil.
B.     Ubarampe yang Digunakan dalam Tradisi Punggahan
Dalam tradisi punggahan yang harus dipersiapkan yaitu tumpeng yang disebut ambang tumpeng sekul suci sakumplite yang mana didalamnya terdiri atas:
1.      Nasi putih
Nasi putih merupakan komponen utama dalam tumpeng tersebut. Nasi putih yang telah disiapkan disusun secara padat menyerupai gunung, diratakan kanan kirinya, kemudian ujung tengahnya diberikan sebuah daun pisang yang berbentuk kerucut kecil lalu dipasangkkan diatasnya.
2.      Lauk pauk
Lauk pauk yang terdapat dalam tumpeng tersebut beraneka macam, seperti telur rebus, tempe goreng, dan ingkung. Lauk pauk ini diletakkan pada sisi tumpeng, yang mana sudah dikelompokkan sesuai jenis lauk yang ada.
3.      Sayur
Sayur yang digunakan tradisi ini yaitu sayur lombok (brongkos), mie, dan kacang. Sayur lombok merupakan sayur yang wajib ada dalam setiap tradisi tak terkecuali pada tradisi punggahan ini. Masayarakat Desa Bonorowo menganggap bahwa sayur lombok adalah mempunyai nilai luhur tersendiri terkait dengan leluhur cikal bakal daerah tersebut. Peletakkan sayur diposisikan tepat disisi tumpeng dan disebelah lauk pauk, serta di kelompokkan sesuai dengan jenis sayur yang ada.
4.      Kerupuk/ peyek
Kerupuk atau peyek merupakan pelengkap yang digunakan dalam tumpeng tersebut. Kerupuk disajikan atau ditempatkan secara terpisah yakni pada sebuah baskom besar yang telah disediakan.
5.      Apem
Apem digunakan sebagai simbol memaafkan, yakni sesama manusia kita harus saling memaafkan antara satu sama lain serta bertaubat kepada Alloh.
6.      Ketan
Ketan digunakan sebagai simbol kesalahan, yakni setiap manusia pasti memiliki kesalahan baik besar maupun kecil, baik pada dirinya sendiri, manusia lain, ataupun kepada Alloh.
7.      Jenang abang dan putih
Jenang abang dan putih sebagai simbol permintaan keselamatan. Jenang abang simbol keselamatan orang yang sudah meninggal agar di lapangkan kuburnya, mendapat pertolongan-Nya, dan ditempatkan disisi-Nya. Sedangkan jenang putih digunakan sebagai simbol keselamatan bagi orang yang ditinggalkannya/ kelurga yang masih hidup, baik keselamatan bagi keluraganya, anak cucunya hingga cicitnya kelak.
8.      Pasung
Pasung digunakan sebagai simbol berpuasa. Setelah tradisi punggahan dilaksanakan, datanglah Bulan Suci Ramadhan, diharapkan semua masyarakat Desa Bonorowo melakukan puasa selama sebulan penuh sesuai ajaran bagi umat beragama Islam.
9.      Pisang
Pisang digunakan sebagai simbol hari yang akan datang. Hari yang akan datang pada tradisi ini yaitu Bulan Suci Ramadhan dan seterusnya yang mana kita harus menjalaninya sebaik mungkin dengan lahir mmaupun batin yang bersih.
C.     Makna tersirat dari tradisi punggahan (peralatan dan perlengkapan dalam tradisi punggahan)
Makna tersirat dari tradisi punggahan yaitu kenduri punggahan. Kenduri punggahan secara simbolis digunakan sebagai bentuk rasa syukur, suka cita, dan pemanjatan doa yang dilakukan bersama pada kediaman sesepuh/juru kunci Desa Bonorowo. Kenduri dilaksanakan setelah berseh diri, dan berseh makam dimaksudkan agar dalam kenduri punggahan tersebut setiap warga sudah dalam keadaan bersih baik jasmani dan rohani sehingga dalam pemanjatan doa kenduri tersebut dapat dilaksanakan dengan hikmat, batin yang kuat dalam pelafalannya, hal itu juga dimaksudkan sebagai simbol suka cita masyarakat dalam penyambutan Bulan Suci Ramadhan agar pada bulan yang suci terdapat raga dan hati yang suci pula.
Peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam tradisi punggahan yaitu:
1.      Ambeng tumpeng  sekul suci sakumplite
Ambeng tumpeng sekul suci sakumplite yaitu tumpeng yang disusun dengan aneka macam lauk, sayur di sekelilingnya, serta terdapat tambahan berupa apem, ketan, jenang abang, jenang putih, pasung dan pisang yang ditata secara bersamaan dalam satu tempat. Makna dari tumpeng sendiri yaitu melambangkan hubungan manusia dengan tuhan, yang mana pucuk tumpeng diibaratkan tuhan dan alasnya digambarkan sebagai manusia.
2.      Tampah
Tampah dalam tradisi punggahan ini digunakan untuk meletakkan tumpeng. Makna dari tampah ini yaitu “nampah” diartikan sebagai menerima. Tampah digunakan warga setempat sebagai alat pemisah antara kotoran dan beras yang terdapat pada beras yang digilingkan, oleh karena itu sebagian masyarakat setempat juga mengartikan sebagai alat yang memisahkan yang baik dan tidak baik. Jadi tampah dapat dimaknai dengan menerima yang baik.
3.      Rinjing
Rinjing adalah sebuah bakul yang terbuat dari anyaman, biasa digunakan oleh warga setempat  untuk meletakkan nasi. Rinjing dimaknai sebagai simbol keeratan antar warga Desa Bonorowo yang dilambangkan dalam susunan anyaman pada rinjing yang saling terkit dan erat.
4.      Ceting
Ceting adalah sebuah alat yang digunakan sebagai tempat nasi. Pada awalnya ceting yang digunakan terbuat dari anyaman bambu, tetapi sejalan dengan berkembangnya zaman, ceting yang digunakan warga yaitu ceting plastik. Ceting ini digunakan sebagai simbol kecukupan, apabila cetingnya terisi diartikan bahwa kehidupannya kecukupan, namun apabila ceting tersebut kosong berarti menandakan sebaliknya.
5.      Arit
Arit adalah pisau melengkung menyerupai bulan sabit. Arit dalam tradisi ini digunakan untuk membersihkan rumput yang ada disekitar makam. Dilihat dari penggunaannya arit sering digunakan sebagai simbol keberanian oleh warga.
6.      Sapu lidi
Sapu merupakan alat kebersihan yang terbuat dari lidi. Makna sapu lidi yaitu manusia harus memiliki hubungan yang erat dengan manusia lain, tidak saling menjatuhkan ataupun memisahkan.
D.    Nilai Budaya atau Pendidikan yang Dapat di Petik dari Tradisi Punggahan
1.      Nilai rukun
Mulder (1983) menyebutkan, masyarakat Jawa memegang teguh bahwa rukun merupakan sebuah kondisi untuk mempertahankan kondisi masyarakat yang harmonis, tentram, aman dan tanpa perselisihan. Nilai rukun dalam tradisi ini tercermin dari kenduri yang dilaksanakan di kediaman juru kunci Desa Bonorowo. Dalam kenduri ini, semua orang berkumpul tanpa membeda-bedakan satu sama lain, berangkat bersama, dan saling bercengkrama satu sama lain. Jadi kita sesama manusia tidak boleh membeda-bedakan satu sama lain, tidak saling menjatuhkan, dan menghujat satu sama lain.
2.      Nilai gotong royong
Gotong royong yaitu kegiatan saling membantu satu sama lain. Nilai gotong royong ini tercermin pada persiapan masak kenduri dan berseh makam. Nilai yang dapat dipetik yaitu kita harus memupuk sikap gotong royong dan membantu sesama yang membutuhkan.
3.      Nilai rasa hormat
Nilai rasa hormat tercermin pada berseh makam, dimana kita sebagai manusia yang masih hidup memberikan sebuah penghormatan kepada orang yang sudah meninggal dengan membersihkan makamnya. Kita sudah sepatutnya menghormati semua orang baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, yang mana dapat kita ekspresikan dengan berbagai cara.

PENUTUP
Punggahan adalah suatu tradisi yang diselenggarakan pada akhir bulan ruwah, berfungsi untuk mengantarkan arwah munggah (naik kembali ke asalnya) dengan mengirimkan doa-doa oleh setiap keluarga yang ditinggalkannya. Selain itu, punggahan juga dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan suka cita dalam menyambut bulan ramadhan. Prosesi dalam tradisi punggahan ini yaitu berseh diri, berseh makam, dan kenduri. Ubarampe yang harus dipersiapkan yaitu sebuah tumpeng yang disebut dengan ambeng tumpeng sekul suci sakumplite yang berisi nasi putih, lauk pauk, sayur, kerupuk/peyek, apem, ketan, jenang abang, jenang putih, pasung, dan pisang. Alat dan perlengkapan yang digunakan yaitu ambeng tumpeng sekul suci sakumplite, rinjing, ceting, arit, tampah, dan sapu lidi. Nilai yang dapat dipetik dalam tradisi ini ada tiga yakni nilai rukun, gotong royong, dan nilai rasa hormat.

LAMPIRAN

                   
http://v-images2.antarafoto.com/                                http://i1.wp.com/www.amongguru.com/
                   
http://www.nu.or.id/                                                   http://patembayancitralekha.com/ 


Mengintip Pergantian Bregada Jaga di Pura Pakualaman Yogyakarta



Oleh: Bayu Aditya Rahman/ 2017015145
Abstrak
Mengenal kebudayaan daerah sendiri adalah hal yang mungkin kurang menarik bagi sebagian orang. Kebudayaan sekitar kadang lebih berbobot daripada kebudayaan hura-hura dan individualistis orang barat. Pergantian bregada jaga atau Upacara Ganti Dwaja adalah kegiatan budaya yang dilaksanakan di Pura Pakualaman Yogyakarta yang rutin diadakan setiap 35 hari sekali pada hari Sabtu Kliwon. Pergantian jaga dilakukan oleh pasukan penjaga Bregada Lombok Abang dengan Bregada Plangkir. Bregada Lombok abang adalah pasukan khas pakualaman dengan sragam dominan warna merah, merupakan pasukan garis depan dengan senjata tombak. Bregada Plangkir adalah pasukan khas pakualaman dengan seragam dominan warna hitam, merupakan pasukan garis belakang karena bersenjatakan senapan laras panjang. Prosesi utama dari upacara ini adalah upacara mengganti Dwaja oleh kedua pasukan di dalam Pura Pakualaman dilanjutkan kirab mengelilingi Beteng Pakualaman. Pergantian Bregada Jaga atau Upacara Ganti Dwaja mengandung berbagai makna filosofis dan budaya karena mengusung perlengkapan Legiun Pakualaman yang masih otentik sejak lebih dari satu abad silam. Sekarang pergantian bregada jaga didukung oleh dinas kebudayaan untuk menarik minat wisatawan untuk datang ke Pura Pakualaman. Kegiatan dibuat sebuah serangkaian dan disediakan panggung kesenian dan pasar kaget supaya lebih meriah.

Keywords: Pakualaman, Bregada, Ganti Dwaja, Lombok Abang, Plangkir


PENDAHULUAN
Gajah di pelupuk mata tidak tampak sedangkan semut diseberang lautan tampak. peribahasa tersebut bukan hanya berlaku bagi kesalahan, namun juga dalam berbagai hal. Budaya dan kesenian disekitar kita kadang lolos dari pengamatan padahal mungkin lebih bagus dan berbobot daripada kebudayaan dari luar. Hingar bingar budaya hedonisme orang barat kadang lebih menarik daripada budaya daerah kita yang dianggap kuno. Pura Pakualaman adalah istana yang jarang dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Istana ini juga jarang diliput oleh media cetak maupun elektronik karena biasanya hanya pada saat grebeg atau jika ada acara besar lainnya. Pergantian Bregada Jaga adalah acara rutin yang dilaksanakan setiap 35 hari sekali yang bersifat intern. Saat ini pengelola Pura Pakualaman bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Yogyakarta dalam memeriahkan acara Pergantian Bregada Jaga. Tujuan ditulisnya artikel ini adalah agar kegiatan kebudayaan di sekitar kita dapat menggaung dan menarik orang-orang untuk memeriahkan kegiatan kebudayaan dalam hal ini tentang Pergantian Bregada Jaga Pura Pakualaman Yogyakarta. Mengetahui sisi filosofis dari acara Pergantian Bregada Jaga Pura Pakualaman Yogyakarta. Serta melihat arti perlengkapan Pasukan Bregada Jaga Pakualaman Yogyakarta.



PEMBAHASAN
Pura Pakualaman adalah cagar budaya yang berada di sebelah timur laut dari Kraton Yogyakarta. Pergantian bregada jaga atau upacara tradisi Ganti Dwaja berarti pergantian pasukan jaga yang secara simbolis menjaga istana/ pura pakualaman. Pergantian dilakukan setiap tiga puluh lima hari sekali berdasarkan kalender jawa yaitu setiap Sabtu Kliwon. Semisal sebelumnya dijaga Bregada Lombok Abang maka akan digantikan oleh Bregada Plangkir sampai 35 hari selanjutnya. Dilaksanakan hari Sabtu Kliwon dikarenakan hari tersebut merupakan pasaran lahir Adipati Pakualam X, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Pakualam X. hal ini berkaitan dengan mitos weton atau pasaran lahir merupakan hari sial atau hari dimana si pemilik weton memiliki pertahanan batin yang melemah. Oleh karena itu Ganti Dwaja ini dilakukan karena pada saat pergantian adalah saat pertahanan terlemah sekaligus terkuat karena ada banyak orang yang menjaga. Bahwa pasukan penjaga akan selalu siap siaga menjaga keselamatan rajanya. Makna Bregada Jaga sendiri yaitu pertanda siap dalam melakukan penjagaan secara sungguh-sungguh
Ada dua prajurit jaga di Pura Pakualaman yang masing-masing memiliki sebanyak 50 prajurit yaitu Bregada Lombok Abang dan Bregada Plangkir. Dibentuk pada tahun 1813 pada masa pemerintahan Pakualam I sebagai pasukam tempur bernama Legiun Pakualaman. Pada saat itu juga berfungsi sebagai prajurit cadangan bagi tentara Inggris dan Belanda sehingga pasukan Legiun Pakualaman dilatih dengan gaya, taktik perang, persenjataan, dan perpangkatan gaya Eropa.

Bregada Lombok Abang
Bregada Lombok Abang berseragam merah-merah sebagai ciri khasnya, merupakan kesatuan yang berbeda dari pasukan berjuluk Lombok Abang (Wirabraja) Keraton Yogyakarta yang bertopi lancip seperti cabai. Bregada Lombok Abang membawa senjata tombak yang juga diberi warna merah. Berbaris empat banjar dengan diawali satu orang pemimpin membawa pedang komando, satu orang pembawa panji lalu barisan serdadu terdiri dari empat orang pembawa pembawa tambur, empat orang pembawa seruling, dua orang pembawa bendhe, dan satu orang pembawa kempyeng, dan sisanya tentu pasukan pembawa tombak. Secara filosofis warna merah diartikan keberanian mutlak, begitu juga dengan bregada lombok abang adalah pasukan paling pemberani. Pasukan  Lombok Abang merupakan pasukan pengawal pribadi raja yang senantiasa melindungi raja. Bregada Lombok Abang memiliki Dwaja/ bendera berwarna merah warna merah juga melambangkan karakter api yang membawa makna garang. Tombak memiliki makna filosofis menghindarkan segala mara bahaya, selalu lurus atau fokus dalam berpikir serta menjalani kehidupan senantiasa di jalan yang benar.

Bregada Plangkir
Bregada Plangkir berseragam dominan hitam dengan ornamen emas mirip dengan seragam pasukan serdadu Eropa terutama Inggris. Banyak sejarawan berpendapat bahwa bregada ini dulunya adalah hadiah dari kerajaan Inggris untuk menekan atau mengintimidasi Kesultanan Yogyakarta. Merupakan prajurit garis belakang karena bersenjatakan senapan laras panjang. Istilah Plangkir mirip dengan kata Flanker bahasa inggris untuk istilah yang berada pada sisi belakang. Barisan Bregada Plangkir juga dipimpin oleh komandan dengan pedang komando, dilanjutkan dengan satu orang pembawa Dwaja lalu empat orang pembawa tambur sisanya empat banjar pembawa senapan laras panjang/ bedhil beserta bayonetnya. Dwaja Bregodo Plangkir berwarna hitam dengan simbol pakualaman di tengahnya. Warna hitam identik dengan kuat dan tegas karena tidak bisa dinodai oleh warna lain, sedangkan warna putih pada celana tentu untuk menyeimbangkan dengan filosofi warna hitam pada baju dan topi pasukan. Bedhil dan bayonet adalah simbol dari satunya hati pemikiran dan ucapan akan membawa serta tindakan yang menimbulkan konsekuensi tersendiri dan harus diterima. Karena dalam menarik pelatuk harus menyiapkan pikiran dan hati, sehingga peluru akan melesat menuju sasaran dan kita tidak bisa menariknya kembali dan menerima konsekuensi pilihan kita. Pangkat dalam prajurit bregada dari yang paling rendah adalah jajar mas, mas bekel, mas lurah, dan tertinggi mas ngabehi.
Acara dimulai sudah sejak Jumat malam yaitu sarasehan dan karawitan. Kemudian dari pagi hari stand-stand makanan (pasar kaget) akan memenuhi pinggir jalan dan alun-alun depan Pura Pakualaman. Pada Sabtu (20/04) nampak disediakan panggung kesenian  dan atraksi berupa Jathilan atau tarian tradisional dari Kulonprogo bahkan kadang ada juga atraksi Jemparingan atau seni memanah ala Jawa untuk memeriahkan acara. Diawali dari prajurit berbaris keluar dari Masjid Pura Pakualaman menuju halaman istana. Lalu upacara di pura pakualaman, memancang bendera kebesaran dan membaca janji dan dilanjutkan kirab keliling beteng pakualaman. Lalu malamnya kadang diadakan pertunjukan wayang di panggung yang telah disediakan.

PENUTUP
Pergantian Bregada Jaga pada Pura Pakualaman merupakan kegiatan rutin setiap 35 hari sekali yang diadakan di kompleks Pura Pakualaman untuk menandai pergantian tugas jaga pasukan penjaga. Dilaksanakan dengan kegiatan inti berupa upacara, mengganti bendera (Ganti Dwaja) dan kirab mengelilingi Beteng Pura Pakualaman. Dilaksanakan oleh Bregada Lombok Abang dan Bregodo Plangkir untuk saling bergantian dalam menjaga Pura Pakualaman.
Pergantian Bregada Jaga merupakan simbol kesiap-siagaan prajurit Pura Pakualaman untuk senantiasa menjaga keselamatan dan keamanan rajanya yaitu Sri Pakualam X. dilaksankan tiap pasaran lahir Sri Pakualam X karena disimbolkan hari pasaran lahir adalah hari dimana melemahnya pertahanan fisik dan bathin orang tersebut. Pergantian berarti titik kelemahan sekaligus kekuatan disaat bersamaan.
Atribut Bregada Lombok Abang didominasi warna merah agar terkesan berani, garang dan kuat. Senjata tombaknya berarti perlindungan dari segala marabahaya dan ketetapan hati dalam hidup di jalan yang lurus. Sedangkan atribut Bregada Plangkir didominasi warna hitam yang terkesan tegas dan kuat serta pendirian yang kokoh serta warna putih pada celana sebagai penetral bahwa hidup selalu seimbang jika ada keburukan pasti ada kebaikan. Bedhil dan bayonet artinya satunya hati dan ucapan akan membawa serta tindakan dan konsekuensi yang harus diterima seseorang.


SUMBER/ REFERENSI
Artikel ini bersumber dari observasi penulis di cagar budaya Pura Pakualaman pada hari Sabtu Kliwon 20 April 2019 pukul 15.12 WIB
Rochmana, Fatma. 2015. Makna Simbolik Atribut Prajurit Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Skripsi. Pendidikan Seni Rupa Fakultas Budaya dan Seni. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta

BUDAYA PADUSAN UNTUK MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN




Devi Puspitasari
2017015040
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Abstrak: Dalam rangkaian menyambut Bulan Suci Ramadhan, ummat islam di Nusantara memiliki beraneka ragam cara dan tradisi. Khususnya bagi masyarakat Jawa. Tujuan artikel ini untuk mengupas lebih dalam tentang kebudayaan di beberapa daerah yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menyambut bulan Bulan Suci Ramadhan. Indonesia kaya akan variasi tradisi/budaya, baik keagamaan, kedaerahan, maupun perpaduan antara keagamaan dan kedaerahan. Zaman dahulu, tradisi padusan ini dilakukan dengan mendatangi sumber mata air murni yang dipercaya warga dapat mendatangkan berkat. Selain itu, Dahulu acara ini sangat sakral karena diadakan di kolam-kolam masjid atau mata sir tertentu yang ditunjuk dan dilakukan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman dan pergantian generasi, tradisi sudah banyak mengalami perubahan atau pergeserang dari makna sosiologisnya yang asli. Tradisi padusan bisa dilakukan di sungai, kolam, tempat wisata atau bahkan rumah sendiri. Namun demikian, pada suatu wilayah tertentu masih tetap mempertahankan dan mempercayai adatnya sebagai peninggalan nenek moyang. Pada puncaknya budaya tersebut akan bisa menjadi ciri dan kebanggaan daerah, bahkan prosesi ritualnya kemudian menjadi aset wisata. Zaman dahulu, tradisi padusan ini dilakukan dengan mendatangi sumber mata air murni yang dipercaya warga dapat mendatangkan berkat. Mereka pun akan mandi besar, yakni dengan membersihkan badan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Filosofi dari padusan adalah membersihkan diri sehingga ketika kita melakukan harus benar-benar sesuai dengan ajaran agama.
Kata kunci : Bulan Suci Ramadhan, Padusan.


Pendahuluan
Bagi umat Islam berkewajiban untuk menyempurnakan rukun islam, salah satunya dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Berpuasa di bulan Ramadhan dengan tujuan agar umat Islam bertambah ketaqwaannya kepada Allah, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu berpuasa juga bertujuan untuk menahan hawa nafsu manusia.
Tujuan artikel ini untuk mengupas lebih dalam tentang kebudayaan di beberapa daerah yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menyambut bulan Bulan Suci Ramadhan.
Para ahli kesehatan berpendapat bahwa berpuasa di bulan Ramadhan memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah: menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, mengurangi kegemukan, sehat bagi ginjal, membantu melawan penyebaran sel-sel kanker dan tumor, mengeluarkan racun melalui aliran darah, memperlambat penuaan, mencegah diabetes dan mencerdaskan otak. Dengan memahami manfaatnya, umat Islam akan semakin mantap untuk menunaikan ibadah puasa.
Namun, sebelum berpuasa umat Islam perlu mensucikan batin dan raga. Mensucikan batin dengan membangun niat dan motivasi yang kuat dalam berpuasa. Mensucikan raga dengan membersihkan sekujur tubuh dengan air suci. Salah satunya dengan padusan.
Tradisi padusan merupakan tradisi sambut bulan puasa yang dilakukan oleh masyarakat umat Muslim yang berada di Jawa Tengah dan juga DIY. Tradisi ini dilakukan dengan cara mandi atau berendam di kolam masjid, laut atau di sumber-sumber air yang dianggap keramat.
Pembahasan
Bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah sekaligus mempunyai keistimewaan sendiri. Karena menurut filosofi Jawa khususnya, puasa merupakan laku prihatin dan sarana untuk mendekatkan diri pada tuhan, demi mencapai derajat. Tradisi merupakan suatu ritual yang dianggap penting dan dilakukan rutin dalam jangka waktu tertentu di tanggal dan bulan tertentu. Bukan hanya padusan, ada ritual lain yaitu nyadran.
Setelah melaksanakan nyadran, masyarakat Jawa biasanya melakukan pencucian diri melalui ritual yang disebut padusan. Prosesinya dimulai dengan mengguyurkan kepala dengan satu gayung air kembang. Setelah itu, sebuah wadah dari tanah liat yang juga berisi air dan kembang dibanting di depan kolam tempat padusan, sebagai penutup ritual.
Tradisi padusan merupakan tradisi sambut bulan puasa yang dilakukan oleh masyarakat umat Muslim yang berada di Jawa Tengah dan juga DIY. Tradisi ini dilakukan dengan cara mandi atau berendam di kolam masjid, laut atau di sumber-sumber air yang dianggap keramat.
Padusan berasal dari kata adus, yang berarti mandi. Padusan dalam hal ini bermakna proses proses aktivitas mandi. Dalam pengertian budaya, tradisi padusan yang berasal dari Wali Songo ini merupakan tradisi masyarakat untuk membersihkan diri atau mandi besar dengan maksud mensucikan raga dan jiwa dalam rangka menyambut datangnya hari ataupun bulan istimewa, seperti bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha.
Sukijo Utomo (29/04/19), warga daerah setempat mengemukakan bahwa tujuan dari padusan yang dilaksanakan sehari sebelum puasa Ramadhan yaitu untuk membersihkan diri dan hatinya dari kotoran-kotoran / dosa yang selama manusia hidup agar sewaktu berpuasa mereka dalam keadaan yang bersih dan semakin bertambah keimanannya.
Dalam Agama Islam, tradisi padusan atau balimau sebenarnya tidak ada. Di dalam Al-Quran atau Hadist tidak tercantum perintah untuk melakukan padusan sebelum puasa. Ini adalah murni tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa. Karena padusan adalah sebuah tradisi, maka tidak ada keharusan untuk melakukan padusan sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Sejarah Zaman dahulu, tradisi padusan ini dilakukan dengan mendatangi sumber mata air murni yang dipercaya warga dapat mendatangkan berkat. Mereka pun akan mandi besar, yakni dengan membersihkan badan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, tradisi padusan sudah ada semenjak pemerintah Hamengku Buwono I. Tradisi ini dulu rutin diadakan sehari sebelum puasa di kolam-kolam masjid dan sumber mata air yang ditentukan oleh Keraton. Biasanya yang melaksanakan padusan pun hanya laki-laki dengan menceburkan diri mereka ke kolam dengan bermain air di dalam kolam tersebut. Sedangkan wanita dewasa tidak melakukan tradisi padusan bersama laki-laki di kolam tersebut.
Makna simbolis padusan, sebagai persiapan fisik dan batiniah agar hati menjadi bening, bersih dan suci, sehingga ketika berpuasa tidak digoda nafsu jahat dan hina. Filosofi dari padusan adalah membersihkan diri sehingga ketika kita melakukan harus benar-benar sesuai dengan ajaran agama. Misalnya, berpakaianlah yang sopan serta tidak bercampur dengan lawan jenis. Dengan demikian, makna tradisi padusan tetap terjaga meski zaman sudah berubah.
Biasanya warga mendatangi sumber mata air yang ditunjuk sebagai mata air bersih sebagi simbol pembersihan badan tersebut sebagai cara untuk mensucikan diri sehingga bersih secara lahir dan batin. Tradisi ini dilakukan dengan berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air.
Faktanya, pada zaman yang modern ini, tradisi padusan berubah drastis. Seminggu sebelum Ramadhan, sudah penuh dengan pengunjung. Hal ini karena Pemda setempat (Jawa Tengah dan DIY) biasanya mengagendakan tradisi ini sebagai acara rutin setiap tahun. Bahkan untuk menambah semakin meriahnya acar padusan, berbagai acarapun digelar seperti pasar rakyat dan pentas dangdut.
Pada golongan orang tua, mereka telah melaksanakan padusan setiap tahunnya, dari kecil hingga usia matang mereka. Dan pada umumnya, mereka telah benar-benar memahami dan menghayati nilai-nilai yang terselubung dibalik pelaksanaan ritual padusan. Namun, tidak semua golongan pertama ini benar-benar mengerti akan tradisi ini, tujuan yang terkandung di dalamnya, juga kearifan lokal dalam tradisi tersebut.
Sedangkan pada golongan muda, umumnya telah pudarnya nilai-nilai adat istiadat pada ritual-ritual nenek moyang termasuk padusan. Sebagai contoh anak muda lebih cenderung melakukan ritual padusan di tempat-tempat ramai, unsur ikut-ikutan dan mengutamakan unsur rekreasi dan main-main lebih dominan dibanding dengan menghayati nilai-nilai dan kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi ini.
Dahulu acara ini sangat sakral karena diadakan di kolam-kolam masjid atau mata air tertentu yang ditunjuk dan dilakukan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Namun sekarang bisa dilakukan di sungai, kolam, tempat wisata atau bahkan rumah sendiri.
Serangkaian tradisi Jaawa menjelang puasa itu memiliki kearifan yang dalam. Pertama, sebagai sarana menciptakan relasi sosial kemasyarakatan (horizontal) yang harmonis. Nyadran misalnya, tidak sekedar gotong royong membersihkan makam leluhur, selamatan dengan kenduri, dan membuat kue apem. Tetapi lebih menjelma ke ajang silaturahmi, wahana perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa dan rasa kebangsaan. Itu terlihat dalam prosesi nyadran, dimana kelompok-kelompok keluarga atau trah tertentu, berkumpul menjadi satu, saling mengasihi satu sama lain.
Kedua, wujud penghargaan kepada leluhur atau pendahulu. Mereka yang pulang dari rantau mengaitkan nyadran dengan sedekah, beramal kepada para fakir miskin, membangun tempat ibadah. Kegiatan tersebut sebagai wujud balas jasa atas pengorbanan leluhur, yang sudah mendidik hingga menjadi orang yang sukses.
Ketiga,budaya membersihkan jasmani dan rohani ketika hendak beribadah atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Kebersiahan jasmani melalui ritual padusan diharapkan akan menyucikan hati dari segenap perasaan iri, dengki, dan takabur.
Tradisi Jawa menjelang pelaksanaan patut dipertahankan. Bukan hanya berbagai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, lebih dari itu sebagai wujud pelestarian budaya peninggalan nenek moyang.
Pada tanggal 5 Mei 2019 kemarin, masyarakat Jawa, khususnya Klaten, melakukan tradisi padusan di Umbul Brintik. Lokasi Umbul Brintik tak jauh dari pusat wisata Umbul Pluneng yang hanya berjarak kira-kira 3-4 kilometer saja. Umbul Brintik terletak di Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, yang bisa ditempuh dengan mudah dari pusat kota Klaten.
Masyarakat hanya perlu menempuh jarak 5 kilometer saja setelah melewati Pabrik Gula Gondang. Dan hanya dikenakan biaya senilai 5 ribu rupiah per orang untuk melakukan tradisi padusan sekaligus menikmati momen bersama keluarga.
Kesimpulan
Tradisi padusan merupakan tradisi sambut bulan puasa yang dilakukan oleh masyarakat umat Muslim yang berada di Jawa Tengah dan juga DIY. Tradisi ini dilakukan dengan cara mandi atau berendam di kolam masjid, laut atau di sumber-sumber air yang dianggap keramat.
Sejarah Zaman dahulu, tradisi padusan ini dilakukan dengan mendatangi sumber mata air murni yang dipercaya warga dapat mendatangkan berkat. Mereka pun akan mandi besar, yakni dengan membersihkan badan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Makna simbolis padusan, sebagai persiapan fisik dan batiniah agar hati menjadi bening, bersih dan suci, sehingga ketika berpuasa tidak digoda nafsu jahat dan hina. Filosofi dari padusan adalah membersihkan diri sehingga ketika kita melakukan harus benar-benar sesuai dengan ajaran agama.
Tradisi Jawa menjelang pelaksanaan patut dipertahankan. Bukan hanya berbagai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, lebih dari itu sebagai wujud pelestarian budaya peninggalan nenek moyang.
Saran
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.
Daftar Pustaka
Widyastutik, Retno. 2010. Pandangan Masyarakat Mengenai Tradisi Padusan. Universitas Sebelas Maret.
Hasan, Djafar. 1993. Sejarah Keudayaan Jawa. Jakarta: CV. Manggala Bhakti. Hal.37-38

Batik Gebleg Renteng dan Batik Cendol khas Kulon Progo



Ruli Hapsari (2017015036)

Abstrak

 Batik merupakan hal yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia saat ini. Batik merupakan salah satu warisan nusantara yang unik. Berdasarkan etimologi dan terminologinya, batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi, membatik artinya melempar titik berkali-kali pada kain. kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia. Memang pada awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton, untuk pakaian raja dan keluarga, serta para pengikutnya. Batik yang masuk kalangan istana diklaim sebagai milik dalam benteng, orang lain tidak boleh mempergunakannya. Adapun jenis batik menurut pembuatannya yaitu batik tulis, batik cap, dan batik lukis. UNESCO mengukuhkan batik menjadi milik Indonesia sebagai warisan budaya pada tanggal 2 Oktober 2009. Sehingga tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik di Indonesia. Sejak pengukuhan ini, batik mulai berkembang pesat di seluruh Indonesia.
Keyword :Perkembangan, batik , motif


Pendahuluan
Bicara tentang Seni dan Budaya di Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Setiap waktu terus berkembang. Seni-seni tradisional kini tidak lagi milik mereka yang sudah berusia senja. Beberapa anak muda sudah mulai turun tangan ikut melestarikan seni dan budaya jawa khususnya yogyakarta. Salah satu seni yang berkembang di Yogyakarta adalah seni membatik. Keraton yogyakarta yang terkenal akan warisan budaya motif batik ini, seolah mengalirkan ruh seni ke seluruh penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta. Masing-masing daerah di Yogyakarta memiliki motif batik unggulan  yang ditonjolkan, termasuk juga Kulon Progo.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan industri batik, dan  perkembangan motif batik serta mengetahui bagaimana pembuatan batik tradisional tulis dan cap di daerah Kulon Progo. Salah satunya industri batik yang di dirikan oleh Bapak Puryanto yang diberi nama Sinar Abadi Batik pada tahun 2009 yang berlokasi di kasihan 1, Ngentakrejo, Lendah Kulon Progo DI Yogyakarta. Dulunya industri batik ini hanya mempunyai beberapa motif saja tetapi sekarang mempunyai berbagai motif batik yang bagus dan tidak monoton. Apalagi di kabupaten Kulon Progo sendiri mempunyai batik yang khas yaitu batik gebleg renteng, yang membuat industri batik di Kulon Progo semakin berkembang ditambah lagi sekolah dan dinas pendidikan di kabupaten Kulon Progo diwajibkan mengenakan batik gebleg renteng.Industri Sinar Abadi Batik di Kulon Progo memproduksi batik gebleg renteng bervariasi dari mulai motif dan warna yang lebih menarik, Sinar Abadi Batik mempunyai 40 pegawai sebagai pembuat batik dan sebagai penjaga galery batik di Kulon Progo dan Bantul.Sinarabadiinimempunyai 3 galeridiantaranya  2 galeri batik di KulonProgo di daerahwatesdanlendahserta 1 di daerahwijirejoPandakBantul.Pembuatan batik di industri batik inidulunyahanyamembuat batik tulisnamunsekarangpembuatan batik semakinberkembangdanlebih modern.

Pembahasan                                                                                                                        Batik merupakan hal yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia saat ini. Batik merupakan salah satu warisan nusantara yang unik. Keunikannya ditunjukkan dengan barbagai macam motif yang memiliki makna tersendiri. Berdasarkan etimologi dan terminologinya, batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi, membatik artinya melempar titik berkali-kali pada kain. Adapula yang mengatakan bahwa kata batik berasal dari kata amba yang berarti kain yang lebar dan kata titik. Artinya batik merupakan titik-titik yang digambar pada media kain yang lebar sedemikian sehingga menghasilkan pola-pola yang indah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik memiliki arti kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Batik sudah ada sejak jaman Majapahit dan sangat populer sampai saat ini. Tidak ada yang dapat memastikan kapan batik tercipta. Namun, motif batik dapat terlihat pada artefak seperti pada candi dan patung. kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia. Memang pada awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton, untuk pakaian raja dan keluarga, serta para pengikutnya. Batik yang masuk kalangan istana diklaim sebagai milik dalam benteng, orang lain tidak boleh mempergunakannya. Hal inilah yang menyebabkan kekuasaan raja serta pola tata laku masyarakat dipakai sebagai landasan penciptaan batik. Akhirnya, didapat konsepsi pengertian adanya batik klasik dan tradisional. Penentuan tingkatan klasik adalah hak prerogatif raja.
Banyaknya pengikut raja yang tinggal di luar keraton, menjadikan keterampilan membuat batik meluas dan ditiru oleh masyarakat sekitar. Bahkan membatik menjadi pekerjaan wanita untuk mengisi waktu luangnya. Akibatnya batik yang semula hanya dipakai oleh keluarga keraton, menjadi pakaian rakyat. Pada awal keberadaannya, motif batik terbentuk dari simbol-simbol bermakna, yang bernuansa tradisional Jawa, Islami, Hinduisme, dan Budhisme. Dalam perkembangannya, batik diperkaya oleh nuansa budaya lain seperti Cina dan Eropa modern.


  Ada 3 jenis batik menurut teknik pembuatannya, yaitu :
a.       Batik tulis
Batik tulis dibuat secara manual menggunakan tangan dengan alat bantu canting untuk menerakan malam pada corak batik. Pembuatan batik tulis membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi karena setiap titik dalam motif berpengaruh pada hasil akhirnya. Motif yang dihasilkan dengan cara ini tidak akan sama persis. Kerumitan ini yang menyebabkan harga batik tulis sangat mahal. Jenis batik ini dipakai raja, pembesar keraton, dan bangsawan sebagai simbol kemewahan.


b.      Batik cap
Batik cap dibuat dengan menggunakan cap atau semacam stempel motif batik yang terbuat dari tembaga. Cap digunakan untuk menggantikan fungsi canting sehingga dapat mempersingkat waktu pembuatan. Motif batik cap dianggap kurang memiliki nilai seni karena semua motifnya sama persis. Harga batik cap cukup murah karena dapat dibuat secara masal.
c.       Batik lukis
Batik lukis dibuat dengan melukiskan motif menggunakan malam pada kain putih. Pembuatan motif batik lukis tidak terpaku pada pakem motif batik yang ada. Motifnya dibuat sesuai dengan keinginan pelukis tersebut. Batik lukis ini mempunyai harga yang mahal karena tergolong batik yang eksklusif dan jumlahnya terbatas.
Alat-alat dalam pembuatan batik
a.       Bandul berfungsi sebagai penahan kain mori yang sedang dibatik agar tidak terbang tertiup angin atau tertarik oleh pembatik sendiri secara tidak sengaja
b.      Dingklik berfungsi sebagai tempat duduk pembatik, tempat duduk ini pendek supaya pembatik lebih nyaman untuk membatik atau tidak capek.
c.       Gawangan adalah tempat untuk menggantungkan kain mori saat dibatik, gawangan ini terbuat dari kayu atau bambu yang ringan supaya mudah dipindahkan.
d.      Taplak atau kain penutupi badan atau paha pembatik supaya tidak terkena tetesan malam.
e.       Kemplongan adalah meja kayu untuk meratakan kain mori yang kusut sebelum diberi pola batik atau dibatik.
f.       Canting adalah alat yang digunakan untuk menerakan malam pada kain mori. Canting digunakan untuk motif kecil sedangkan kuas untuk motif besar.
g.      Wajan adalah wadah untuk menampung lilin atau malam. Wajan yang biasa digunakan untuk membatik berukuran kecil.
h.      Kompor berfungsi untuk memanaskan malam yang diletakkan di wajan supaya malam tidak mengeras
Bahan  pembuatan batik
a.       Malam adalah sejenis lilin untuk menutupi kain dari poses perwarnaan sehingga kain yang tertutupi malam tidak terkena warna tersebut.
b.      Kain mori adalah kain yang digunakan untuk membatik.
c.       Pewarna adalah untuk mewarnai batik. Warna ini berasal dari bahan pewarna yang alami (kunyit, mengkudu dll) dan pewarna sintetis.
Tahapan awal dalam membuat batik tulis dilakukan dengan membuat pola motif batik. Desain dibuat dengan menggunakan pensil. Langkah selanjutnya adalah menerakan lilin menggunakan canting mengikuti pola yang ada. Tutup dengan lilin bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna). Gunakan canting untuk pola kecil dan kuas untuk pola berukuran besar. Tujuannya, supaya saat pencelupan bahan ke dalam larutan pewarna, bagian yang diberi lilin tidak terkena. Api kompor harus manyala dengan api kecil.
Berikutnya proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu. Setelah dicelup, kain tersebut dijemur sampai kering. Kemudian dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua. Proses berikutnya, menghilangkan lilin dari kain dengan mencelupkan kain tersebut dengan air panas di atas tungku. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin untuk menahan warna pertama dan kedua. Proses menghilangkan dan menorehkan lilin dapat dilakukan berulang kali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
Proses selanjutnya adalah nglorot, kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah digambar terkena warna lain, karena bagian atas kain tersebut masih diselumuti lapisan tipis yang tidak sepenuhnya luntur. Setelah selesai, kain dicuci dan dikeringkan.
Motif Batik
Ada beberapa motif batik yang di produksi oleh industri Sinar Abadi Batik ini yaitu:
a.       Motif gebleg renteng, motif ini merupakan ikon kabupaten Kulon Progo, terdiri dari gambar geblek berbentuk angka 8 sebagai motif utama dan dilengkapi dengan berbagai simbol yang menunjukkan kekayaan alam di Kulon Progo. Sekilas motif Gebleg Renteng ini terdiri dari gambar gebleg, gambar lambang binangun dan gambar buah manggis. Motif gebleg renteng ini tersusun “renteng” atau berjejer ini merupakan simbol makanan khas Kulon Progo, ini juga yang dijadikan alasan mengapa bentuk geblek ini dijadikan motif utama. Diantara motif gebleg ini ada lambang Binangun yang berarti daerah Kulon Progo akan maju dan berkembang, ada juga lambang manggis sebagai lambang kekayaan flora khas Kulon Progo. Motif gebleg renteng juga tersusun dengan pola naik turun, ini menunjukkan bahwa kenampakan alam Kulon Progo sangat beragam yang terdiri dari dataran rendah, pegunungan hingga pantai yang landai.
b.      Motif Cendol, motif ini berawal dari ide bupati Kulon Progo membuat lomba untuk mendesain pola motif terbaru untuk dijadikan motif khas desa Ngentakrejo. Lalu muncullah motif cendol, motif ini berbentuk seperti cendol dinamakan cendol karena motif terebut termotivasi dari beberapa penjual dawet yang ada di Desa Ngentakrejo.

Penutup
Batik merupakan salah satu kekayaan warisan budaya bangsa Indonesia yang unik,  keunikan ini ditunjukan dengan berbagai macam motif yang memiliki makna tersendiri, ada batik gebleg renteng dan batik cendol. Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia. Batik merupakan titik-titik yang digambar pada media kain yang lebar sedemikian sehingga menghasilkan pola-pola yang indah. Batik mempunyai 3 cara dalam pembuatanya yaitu batik tulis, batik cap dan batik lukis. Batik dibuat dengan cara menerakan lilin/malam di kain mori dan diwarai.


Sumber
     Vita Fatimah  Industri Sinar Abadi Batik
Krismawati Nia Ulfia. 2015. Sejarah Perkembangan Batik Modern Desa Sidomukti. Jurnal Agastya. Vol 7 (2) : 43.

TRADISI NYADRAN DI MAKAM SEWU DIWIJIRWJO PANDAK BANTUL

Oleh : Febriana SiskaWati (2017015260) Febrianasiska123@gmail.com Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ABSTRAK Tulisan ini m...