Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2019

Mengintip Pergantian Bregada Jaga di Pura Pakualaman Yogyakarta



Oleh: Bayu Aditya Rahman/ 2017015145
Abstrak
Mengenal kebudayaan daerah sendiri adalah hal yang mungkin kurang menarik bagi sebagian orang. Kebudayaan sekitar kadang lebih berbobot daripada kebudayaan hura-hura dan individualistis orang barat. Pergantian bregada jaga atau Upacara Ganti Dwaja adalah kegiatan budaya yang dilaksanakan di Pura Pakualaman Yogyakarta yang rutin diadakan setiap 35 hari sekali pada hari Sabtu Kliwon. Pergantian jaga dilakukan oleh pasukan penjaga Bregada Lombok Abang dengan Bregada Plangkir. Bregada Lombok abang adalah pasukan khas pakualaman dengan sragam dominan warna merah, merupakan pasukan garis depan dengan senjata tombak. Bregada Plangkir adalah pasukan khas pakualaman dengan seragam dominan warna hitam, merupakan pasukan garis belakang karena bersenjatakan senapan laras panjang. Prosesi utama dari upacara ini adalah upacara mengganti Dwaja oleh kedua pasukan di dalam Pura Pakualaman dilanjutkan kirab mengelilingi Beteng Pakualaman. Pergantian Bregada Jaga atau Upacara Ganti Dwaja mengandung berbagai makna filosofis dan budaya karena mengusung perlengkapan Legiun Pakualaman yang masih otentik sejak lebih dari satu abad silam. Sekarang pergantian bregada jaga didukung oleh dinas kebudayaan untuk menarik minat wisatawan untuk datang ke Pura Pakualaman. Kegiatan dibuat sebuah serangkaian dan disediakan panggung kesenian dan pasar kaget supaya lebih meriah.

Keywords: Pakualaman, Bregada, Ganti Dwaja, Lombok Abang, Plangkir


PENDAHULUAN
Gajah di pelupuk mata tidak tampak sedangkan semut diseberang lautan tampak. peribahasa tersebut bukan hanya berlaku bagi kesalahan, namun juga dalam berbagai hal. Budaya dan kesenian disekitar kita kadang lolos dari pengamatan padahal mungkin lebih bagus dan berbobot daripada kebudayaan dari luar. Hingar bingar budaya hedonisme orang barat kadang lebih menarik daripada budaya daerah kita yang dianggap kuno. Pura Pakualaman adalah istana yang jarang dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Istana ini juga jarang diliput oleh media cetak maupun elektronik karena biasanya hanya pada saat grebeg atau jika ada acara besar lainnya. Pergantian Bregada Jaga adalah acara rutin yang dilaksanakan setiap 35 hari sekali yang bersifat intern. Saat ini pengelola Pura Pakualaman bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Yogyakarta dalam memeriahkan acara Pergantian Bregada Jaga. Tujuan ditulisnya artikel ini adalah agar kegiatan kebudayaan di sekitar kita dapat menggaung dan menarik orang-orang untuk memeriahkan kegiatan kebudayaan dalam hal ini tentang Pergantian Bregada Jaga Pura Pakualaman Yogyakarta. Mengetahui sisi filosofis dari acara Pergantian Bregada Jaga Pura Pakualaman Yogyakarta. Serta melihat arti perlengkapan Pasukan Bregada Jaga Pakualaman Yogyakarta.



PEMBAHASAN
Pura Pakualaman adalah cagar budaya yang berada di sebelah timur laut dari Kraton Yogyakarta. Pergantian bregada jaga atau upacara tradisi Ganti Dwaja berarti pergantian pasukan jaga yang secara simbolis menjaga istana/ pura pakualaman. Pergantian dilakukan setiap tiga puluh lima hari sekali berdasarkan kalender jawa yaitu setiap Sabtu Kliwon. Semisal sebelumnya dijaga Bregada Lombok Abang maka akan digantikan oleh Bregada Plangkir sampai 35 hari selanjutnya. Dilaksanakan hari Sabtu Kliwon dikarenakan hari tersebut merupakan pasaran lahir Adipati Pakualam X, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Pakualam X. hal ini berkaitan dengan mitos weton atau pasaran lahir merupakan hari sial atau hari dimana si pemilik weton memiliki pertahanan batin yang melemah. Oleh karena itu Ganti Dwaja ini dilakukan karena pada saat pergantian adalah saat pertahanan terlemah sekaligus terkuat karena ada banyak orang yang menjaga. Bahwa pasukan penjaga akan selalu siap siaga menjaga keselamatan rajanya. Makna Bregada Jaga sendiri yaitu pertanda siap dalam melakukan penjagaan secara sungguh-sungguh
Ada dua prajurit jaga di Pura Pakualaman yang masing-masing memiliki sebanyak 50 prajurit yaitu Bregada Lombok Abang dan Bregada Plangkir. Dibentuk pada tahun 1813 pada masa pemerintahan Pakualam I sebagai pasukam tempur bernama Legiun Pakualaman. Pada saat itu juga berfungsi sebagai prajurit cadangan bagi tentara Inggris dan Belanda sehingga pasukan Legiun Pakualaman dilatih dengan gaya, taktik perang, persenjataan, dan perpangkatan gaya Eropa.

Bregada Lombok Abang
Bregada Lombok Abang berseragam merah-merah sebagai ciri khasnya, merupakan kesatuan yang berbeda dari pasukan berjuluk Lombok Abang (Wirabraja) Keraton Yogyakarta yang bertopi lancip seperti cabai. Bregada Lombok Abang membawa senjata tombak yang juga diberi warna merah. Berbaris empat banjar dengan diawali satu orang pemimpin membawa pedang komando, satu orang pembawa panji lalu barisan serdadu terdiri dari empat orang pembawa pembawa tambur, empat orang pembawa seruling, dua orang pembawa bendhe, dan satu orang pembawa kempyeng, dan sisanya tentu pasukan pembawa tombak. Secara filosofis warna merah diartikan keberanian mutlak, begitu juga dengan bregada lombok abang adalah pasukan paling pemberani. Pasukan  Lombok Abang merupakan pasukan pengawal pribadi raja yang senantiasa melindungi raja. Bregada Lombok Abang memiliki Dwaja/ bendera berwarna merah warna merah juga melambangkan karakter api yang membawa makna garang. Tombak memiliki makna filosofis menghindarkan segala mara bahaya, selalu lurus atau fokus dalam berpikir serta menjalani kehidupan senantiasa di jalan yang benar.

Bregada Plangkir
Bregada Plangkir berseragam dominan hitam dengan ornamen emas mirip dengan seragam pasukan serdadu Eropa terutama Inggris. Banyak sejarawan berpendapat bahwa bregada ini dulunya adalah hadiah dari kerajaan Inggris untuk menekan atau mengintimidasi Kesultanan Yogyakarta. Merupakan prajurit garis belakang karena bersenjatakan senapan laras panjang. Istilah Plangkir mirip dengan kata Flanker bahasa inggris untuk istilah yang berada pada sisi belakang. Barisan Bregada Plangkir juga dipimpin oleh komandan dengan pedang komando, dilanjutkan dengan satu orang pembawa Dwaja lalu empat orang pembawa tambur sisanya empat banjar pembawa senapan laras panjang/ bedhil beserta bayonetnya. Dwaja Bregodo Plangkir berwarna hitam dengan simbol pakualaman di tengahnya. Warna hitam identik dengan kuat dan tegas karena tidak bisa dinodai oleh warna lain, sedangkan warna putih pada celana tentu untuk menyeimbangkan dengan filosofi warna hitam pada baju dan topi pasukan. Bedhil dan bayonet adalah simbol dari satunya hati pemikiran dan ucapan akan membawa serta tindakan yang menimbulkan konsekuensi tersendiri dan harus diterima. Karena dalam menarik pelatuk harus menyiapkan pikiran dan hati, sehingga peluru akan melesat menuju sasaran dan kita tidak bisa menariknya kembali dan menerima konsekuensi pilihan kita. Pangkat dalam prajurit bregada dari yang paling rendah adalah jajar mas, mas bekel, mas lurah, dan tertinggi mas ngabehi.
Acara dimulai sudah sejak Jumat malam yaitu sarasehan dan karawitan. Kemudian dari pagi hari stand-stand makanan (pasar kaget) akan memenuhi pinggir jalan dan alun-alun depan Pura Pakualaman. Pada Sabtu (20/04) nampak disediakan panggung kesenian  dan atraksi berupa Jathilan atau tarian tradisional dari Kulonprogo bahkan kadang ada juga atraksi Jemparingan atau seni memanah ala Jawa untuk memeriahkan acara. Diawali dari prajurit berbaris keluar dari Masjid Pura Pakualaman menuju halaman istana. Lalu upacara di pura pakualaman, memancang bendera kebesaran dan membaca janji dan dilanjutkan kirab keliling beteng pakualaman. Lalu malamnya kadang diadakan pertunjukan wayang di panggung yang telah disediakan.

PENUTUP
Pergantian Bregada Jaga pada Pura Pakualaman merupakan kegiatan rutin setiap 35 hari sekali yang diadakan di kompleks Pura Pakualaman untuk menandai pergantian tugas jaga pasukan penjaga. Dilaksanakan dengan kegiatan inti berupa upacara, mengganti bendera (Ganti Dwaja) dan kirab mengelilingi Beteng Pura Pakualaman. Dilaksanakan oleh Bregada Lombok Abang dan Bregodo Plangkir untuk saling bergantian dalam menjaga Pura Pakualaman.
Pergantian Bregada Jaga merupakan simbol kesiap-siagaan prajurit Pura Pakualaman untuk senantiasa menjaga keselamatan dan keamanan rajanya yaitu Sri Pakualam X. dilaksankan tiap pasaran lahir Sri Pakualam X karena disimbolkan hari pasaran lahir adalah hari dimana melemahnya pertahanan fisik dan bathin orang tersebut. Pergantian berarti titik kelemahan sekaligus kekuatan disaat bersamaan.
Atribut Bregada Lombok Abang didominasi warna merah agar terkesan berani, garang dan kuat. Senjata tombaknya berarti perlindungan dari segala marabahaya dan ketetapan hati dalam hidup di jalan yang lurus. Sedangkan atribut Bregada Plangkir didominasi warna hitam yang terkesan tegas dan kuat serta pendirian yang kokoh serta warna putih pada celana sebagai penetral bahwa hidup selalu seimbang jika ada keburukan pasti ada kebaikan. Bedhil dan bayonet artinya satunya hati dan ucapan akan membawa serta tindakan dan konsekuensi yang harus diterima seseorang.


SUMBER/ REFERENSI
Artikel ini bersumber dari observasi penulis di cagar budaya Pura Pakualaman pada hari Sabtu Kliwon 20 April 2019 pukul 15.12 WIB
Rochmana, Fatma. 2015. Makna Simbolik Atribut Prajurit Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Skripsi. Pendidikan Seni Rupa Fakultas Budaya dan Seni. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta

Jumat, 24 Mei 2019

BAJU ADAT PAES AGENG KEBESARAN GAYA YOGYAKARTA


Oleh:
Ersa Eka Desvianti (2017015006)
 Abstrak
Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta adalah sebuah riasan adat tradisional dari provinsi Yogyakarta yang dipakai oleh sepasang pengantin. Konon katanya, Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta bukan sembarang riasan, ia memiliki makna dan pesan yang sangat mendalam dan sakral. Bahkan perias paes ageng harus melakukan puasa sebelum melakukan tugasnya.  Persoalan yang hendak dikaji dalam penelitian tersebut  yaitu makna dan pesan Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta. Untuk mengungkapkan persoalan tersebut, digunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan data mengenai makna dan pesan Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan budaya dan berlandasan teori. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi secara langsung. Data dilakukan pemeriksaan keabsahannya, Penyajian sekaligus analisis data untuk kemudian dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta dimaknai sebagai makna yang berdimensi vertikal maupun horizontal, dimana makna vertikal adalah makna yang menunjukan hubungan antar manusia dengan Tuhannya, sedangkan makna horisontal adalah makna yang menunjukkan hubungan antara manusia dengan sesamanya atau individu dan individu dengan lingkungan sosialnya, juga hubungan antar individu dengan alam dan lingkungan fisiknya.Yang artinya merupakan salah satu tatanan sosial bermasyarakat sekaligus sebagai bentuk pengharapan dan doa. Bertitik tolak dari penelitian ini, rekomendasi yang diperkirakan dapat menjadi bahan pertimbangan adalah (1) Masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta tetap mempertahankan kebudayaan yang telah diwariskan oleh leluhur dan diharapkan generasi muda dapat melestarikan kebudayaan dalam bentuk riasan pengantin ini.(2) Perlu keterlibatan pelaku budaya atau seperti perias pengantin untuk lebih sering mengadakan workshop tentang makna dan pesan Pada Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta, sebagai bentuk melestarikan budaya dalam bentuk seni rias tersebut. (3) Penelitian ini terbatas pada persoalan pemaknaan dan proses komunikasinya, sementara aspek-aspek keterlibatan pelaku budaya (perias dan pengantin) sejauh mana sampai tingkat partisipasi masyarakat tidak digali oleh peneliti. Ada baiknya penelitian-penelitian selanjutnya melakukan penelitian lanjutan dibidang komunikasi budaya pada Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta.


Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Pendidikan sangat trategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang diperlukan untuk meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh di Indonesia. Indonesia terkenal dengan keanekaragaman suku dan budaya. Satu diantara keanekaragaman tersebut nampak pada tata rias pengantin. Pernikahan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena pernikahan bukan hanya merupakan peristiwa yang harus ditempuh atau dijalani oleh dua individu yang berlainan jenis kelamin, tetapi lebih jauh pernikahan sesungguhnya proses yang melibatkan beban dan tanggung jawab dari banyak orang, baik itu tanggung jawab keluarga, kaum kerabat bahkan kesaksian dari seluruh masyarakat yang ada dilingkungannya. Untuk itu, pengantin dirias sedemikian rupa supaya berbeda dengan kesehariannya dan disesuaikan dengan kebudayaan Jawa kedudukannya sebagai raja, ratu sehari ,tata rias pengantin yang paling banyak diminat konsumen saat ini adalah tata rias jogja paes ageng. Dengan demikian, diperlukan tata rias khusus dengan aturan yang khusus dan penuh dengan makna serta pesan-pesan , untuk kedua mempelai agar kedepanya dalam kehidupan keduanya mampu menerapkan segala pengharapan yang sudah disampaikan lewat pesan dan makna pada riasan pengantin. Corak Paes Ageng Kebesaran merupakan tata rias pengantin yang memiliki kedudukan tertinggi atau agung. Paes Ageng berasal dari kata Paes yaitu riasan dan Ageng yang berarti besar, jika digabungkan berarti riasan yang besar atau mewah. Tata rias tersebut semula hanya dikenakan oleh putra-putri dalem Sri Sultan pada upacara perkawinan agung dalam keraton Yogyakarta, misalnya dikenakan pada saat upacara panggih pengantin yang dikaitkan dengan pesta resepsi . lalu , sebenarnya apakah memang ada pesan-pesan dan makna yang terkandung dalam sebuah riasan tersebut? Melihat fenomena diatas maka dalam hal ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”MAKNA DAN PESAN RIASAN PENGANTIN PAES AGENG KEBESARAN GAYA YOGYAKARTA”.




B.     Tujuan Observasi
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, tujuan observasi  ini adalah untuk mengetahui makna pesan-pesan yang terkandung pada riasan pengantin Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta.
C.     Tujuan Penulisan Artikel
-          Untuk menjadi bahan informasi bagi pembaca dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian yang lain.
-           Untuk menambah ragam penelitian dalam bidang kebudayaan.
-          Untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Kebudayaan Daerah”
Pembahasan
                    Salah satu bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Jawa adalah riasan pengantin. Bagian ini merupakan bagian yang sangat penting dalam rangkaian upacara panjang dan rumit, mengapa demikian? Bagaimanapun juga pusat perhatian para tamu dalam upacara pernikahaan adalah sepasang pempelai pengantin. Seluruh rangkaian upacara tidak lepas dari tujuan agar kedua mempelai tampak cantik, anggun, ceria, dan bahagia, selamat serta sejahtera Begitupula pada riasan pengantin Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta. Paes Ageng mempunyai arti dari Paes yaitu riasan dan Ageng yaitu besar atau mewah. Jadi Paes Ageng secara garis besar diartikan sebagai riasan pengantin yang besar dan mewah.
                    Dalam sejarah khazanah kebudayaan Yogyakarta, Paes Ageng dahulu hanya diperuntungkan pada pernikahan putera dan puteri raja Keraton Yogyakarta, karena pada dasarnya Paes Ageng sendiri mempunyai nilai-nilai pesan dan makna yang sangat sakral bagi kedua mempelai pengantin. Baru pada tahun 1940 pada masa pemerintahan Hamengkubuwono IX, Paes Ageng diperbolehkan bagi khalayak umum dengan tujuan agar masyarakat jawa senantiasa melestarikan Paes Ageng dikarenakan pesan dan makna yang terkandung didalamnnya. Dari beragam perlengkapan dan merupakan ciri khas Paes Ageng Yogyakarta, peneliti ingin melihat lebih dalam lagi makna pesan didalamnnya menggungakan teori yang ada serta menuangkan dalam teks yang terpilih sehingga pesan dan makna dapat tersampaikan dengan baik. Pada penelitian ini riasan pengantin berbentuk Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta dimana mempunyai ciri khas yang cukup menonjol pada bagian mata, dan busanannya. Yang tentu saja banyak sekali makna pesan yang terkandung dan jika dapat disampaikan dengan baik,.Pemakaian busana paes ageng sangat rumit, memerlukan ketekunan dan ketelitian yang didalamnya terkandung kesakralan  maupun makna filosofi dalam setiap detail rias wajah, busana, dan asesorinya. Untuk itu segala sesuatu yang berhubungan dengan paes dipercayakan pada seorang juru rias paes pengantin. Baik perias maupun pengantin putri yang dirias wajib berpuasa sebelum menjalankan acara. Tujuan utamanya adalah mengendapkan perasaan untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari malapetaka. Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik molek dan bersinar.Sejak zaman raja-raja Mataram, pengantin putri selalu menjadi pusat pandang karena setiap detail yang dipakainya mengandung makna filosofi yang sangat agung dan tidak semua orang mengetahuinya.
A.    Tahap-Tahap Merias Wajah
                    Berikut ini uraian tahap-tahap merias gaya paes ageng beserta sajen sekaligus makna filosofinya
1.      Ratusan
Proses pengasapan bahan ratus yaitu wewangian tradisional pada rambut agar harum
2.      Halup-Halupan (cukur rambut)
Paes Ageng
Pembersihan wajah pengantin dengan cara mencukur rambut halus yang tumbuh di dahi atau memotong rambut menjuntai ke dahi sehingga wajah tampak bersih dan siap untuk dibuat pola wajah
3.      Cengkorongan
Merupakan pembuatan pola wajah paes ageng gaya Yogyakarta. Penentuan bentuk dan pembuatan cengkorong ini dikerjakan dengan pensil dan hasil akhirnya berupa gambar samar-samar / tipis
Cengkorong meliputi :
-         citak pada dahi, yaitu bentuk belah ketupat kecil dari daun sirih pada pangkal hidung di antara dua alis. Ada beberapa versi mengenai makna filosofinya, antara lain bahwa citak sebagai reflesi mata Dewa Syiwa yang merupakan pusat panca indra sehingga menjadi pusat keseluruhan ide. Pendapat lain mengatakan bahwa citak sebagai pemberi watak pada keseluruhan ide paes
-         panunggul, pangapit, panitis, godeg
panunggul dibuat di atas citak, ditengah-tengah dahi, berbentuk meru melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa yang manunggal). Ditengah-tengah  panunggul diisi hiasan berbentuk capung atau kinjengan, yaitu seekor binatang yang selalu bergerak tanpa lelah dengan harapan agar pengantin selalu ulet dalam menjalani hidup.
Panunggul berasal dari kata tunggal, yaitu terkemuka atau tertinggi, mengandung makna dan harapan agar seorang wanita ditinggikan atau dihormati
Pengapit terletak di kiri kanan panunggul berbentuk seperti meru (gunung) namun langsing
Penitis terletak di antara pengapit dan godheg
Pengapit, panitis, godheg dibuat sebagai keseimbangan wajah, maka  diletakkan simetris dengan panunggul
Alis dibuat berbentuk menjangan ranggah (tanduk rusa). Rusa merupakan symbol kegesitan, dengan demikian kedua pengantin diharapkan dapat bertindak cekatan, trampil, dan ulet dalam menghadapi persoalan rumah tangga
Daerah sekeliling mata dibiarkan tidak terjamah oleh boreh, diberi gambaran yang disebut jahitan. Untuk membentuk mata lebih tajam dan anggun sehingga orang-orang akan mengaguminya.
4.      Kandelan
Setelah cengkorongan selesai dibuat sesuai pola dasar dan tampak pantas (layak), baru kemudian paes wajah diselesaikan dengan menebalkan garis-garis yang samar menjadi paesan dadi (paes jadi)
5.      Dados
Selesai kandelan, dilanjutkan dengan dandos jangkep pengantin (pengantin berdandan lengkap) yang meliputi sanggul pengantin, perhiasan pengantin, kain pengantin, baju pengantin, dan dandosan (berbusana) lain selengkapnya
a.Hiasan Sanggul.
Tata rambut pengantin dibuat seperti bokor tengkurap sehingga dinamakan  bokor mengkurep. Sanggul rambut diisi dengan irisan daun pandan dan ditutup rajut bunga melati. Perpaduan  daun pandan dan bunga melati memancarkan keharuman yang berkesan religius, sehingga pengantin diharapkan dapat membawa nama harum yang berguna bagi masyarakat.
Gelung bokor mengkurep disempurnakan lagi dengan jebehan, yaitu 3 bunga korsase warna merah-kuning-biru (hijau) yang dirangkai menjadi satu dan dipasang di sisi kiri - kanan gelung. Tiga warna bunga itu melambangkan Trimurti (dewa Syiwa-Brahma-Wisnu).
Ditengah sanggul dihias dengan bunga merah disebut ceplok, dan di kiri – kanan ceplok itu disematkan masing-masing satu bros emas permata
Pada bagian bawah agak ke arah kanan sanggul dipasang untaian melati berbentuk belalai gajah sepanjang 40 cm, diberi nama gajah ngoling. Hiasan ini bermakna bahwa pemakainya menunjukkan kesucian/kesakralan baik sebagai putri maupun kesucian niat dalam menjalani hidup yang sakral pula.
b.Asesori Paes Ageng
            Perhiasan yang dipergunakan pengantin putri disebut pula dengan nama raja keputren. Semua terbuat dari emas bertahtakan berlian yang dirancang dengan seni tinggi dan sangat halus. Set  perhiasan  ini berupa :
-   Cunduk Menthul
5 tangkai bunga dipasang di atas  sanggul menghadap belakang, menggambarkan sinar matahari yang berpijar memberi kehidupan, sering juga dikaitkan dengan lima hal yang menjadi dasar kerajaan Mataram Islam ini, seperti yang tercantum dalam Kitab Suci.
-   Pethat/sisir berbentuk gunung
Hiasan berupa sisir terbuat dari emas diletakkan di atas sanggul berbentuk seperti gunun, sebagai simbol kesakralan. Dalam mitologi Hindu, gunung adalah tempat bersemayam nenek moyang dan tempat tinggal para dewa serta pertapa.
-   Kalung Sungsun (kalung terdiri 3 susun)
Melambangkan 3 tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, meninggal. Hal ini dihubungkan dengan konsepsi Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana
-   Gelang Binggel Kana
Berbentuk melingkar tanpa ujung pangkal yang melambangkan kesetiaan tanpa batas
-   Kelat Bahu (perhiasan pada pangkal lengan)
Berbentuk seekor naga, kepala dan ekornya membelit. Melambangkan bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkan kekuatan dalam hidup. Dalam mitologi Jawa, Naga merupakan hewan suci yang dipercaya menyangga dunia
 -   Centhung
Perhiasan berupa sisir kecil bertahtakan berlian di letakkan diatas dahi pada sisi kiri dan kanan. Melambangkan bahwa pengantin putri telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga
-   Cincin
Menurut beberapa serat yang ditulis sejak jaman Sultan Agung seperti serat Centhini, serat Wara Iswara (Sunan PB IX) ditulis bahwa para putrid tidak diperkenankan memakai cincin di jari tengah. Karena sebagai symbol satu perintah untuk diunggulkan, yaitu milik Tuhan. Cincin di jari manis sebagai symbol untuk senantiasa bertutur kata manis. Cincin di jari kelingking symbol untuk selalu trampil dan giat dalam mengerjakan pekerajaan rumah tangga. Cincin di ibu jari sebagai symbol untuk senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik
B.     Busana dalam Paes Ageng terdiri dari
        Adapun nilai budaya/ pendidikan yang dapat dipetik dalam sebuah pakaian adat tersebut adalah menyebabkan seorang pengamat menikmati atau memperoleh kepuasan dari ciri indrawi yang disajikan oleh suatu karya seni, menyebabkan seseorang menghargai atau mengagumi bentuk besar (struktur) dan bentuk kecil (tekstur) dalam karya seni , dan menyebabkan seseorang menyadari kenyataan, pengalaman pribadi, dan perasaannya






PENUTUP
                                                      KESIMPULAN
C.     Salah satu bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Jawa adalah riasan pengantin. Bagian ini merupakan bagian yang sangat penting dalam rangkaian upacara panjang dan rumit, mengapa demikian? Bagaimanapun juga pusat perhatian para tamu dalam upacara pernikahaan adalah sepasang pempelai pengantin. Seluruh rangkaian upacara tidak lepas dari tujuan agar kedua mempelai tampak cantik, anggun, ceria, dan bahagia, selamat serta sejahtera Begitupula pada riasan pengantin Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta. Paes Ageng mempunyai arti dari Paes yaitu riasan dan Ageng yaitu besar atau mewah. Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta adalah sebuah riasan adat tradisional dari provinsi Yogyakarta yang dipakai oleh sepasang pengantin. Konon katanya, Paes Ageng Kebesaran Gaya Yogyakarta bukan sembarang riasan, ia memiliki makna dan pesan yang sangat mendalam dan sakral. Bahkan perias paes ageng harus melakukan puasa sebelum melakukan tugasnya. . Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik molek dan bersinar.Sejak zaman raja-raja Mataram, pengantin putri selalu menjadi pusat pandang karena setiap detail yang dipakainya mengandung makna filosofi yang sangat agung dan tidak semua orang mengetahuinya. Tahap-tahap merias wajah dan busana dalam Paes Ageng memiliki makna dalam setiap prosesnya. Adapun nilai budaya/ pendidikan yang dapat dipetik dalam sebuah pakaian adat tersebut adalah menyebabkan seorang pengamat menikmati atau memperoleh kepuasan dari ciri indrawi yang disajikan oleh suatu karya seni, menyebabkan seseorang menghargai atau mengagumi bentuk besar (struktur) dan bentuk kecil (tekstur) dalam karya seni , dan menyebabkan seseorang menyadari kenyataan, pengalaman pribadi, dan perasaannya
D.    Saran
Adapun saran yang ingin penyusun sampaikan kepada pembaca adalah agar makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai “ Baju Adat Paes Ageng Gaya Yogyakarta”. Selain itu , diharapkan juga agar dapat para pembaca dapat mengenal atau mengetahui kebudayaan yang ada di Indonesia. Sehingga , kita dapat bersama- sama melestarikan budaya Indonesia yang ada.
REFERENSI
Hasil dari wawancara dengan pengantin dan tukang rias pengantin
Vony F.S Hartini Hippj,  Sulistiami. 2017. IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN LANGSUNG MEMBUAT PAES PROPOSIONAL PADA PENGANTIN INDONESIA JOGJA. 69(2):22-23

















LAMPIRAN

 
 

Jumat, 17 Mei 2019

Pelestarian Pagelaran kesenian Wayang Kulit di Kraton, Yogyakarta



Yulistia Wardani
2016015061
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiwiyata Tamansiswa

Abstract
     Wayang kulit merupakan kesenian tradisional rakyat Indonesia yang mampu bertahan dan dapat diakui eksistensinya melampaui lintas zaman dan benua. Seiring perkembangan zaman, keberadaan  seni pewayangan di Yogyakarta saat ini sudah  mengalami penurunan minat oleh para masyarakatnya, ditandai dengan berkurangnya minat para generasi muda untuk turut menikmati seluk beluk dunia pewayangan dan pertunjukan wayang kulit sebagai faktor utama karena durasi pagelaran wayang kulit yang tidak efektif dan efisien yaitu semalam suntuk yang mampu mengikuti laju globalisai. Hasil Observasi menunjukan bahwa upaya pelestarian pagelaran wayang kulit dapat menarik perhatian warga dosmetik dan mancanegara melalui modifikasi durasi waktu menjadi lebih singkat sekitar 2 jam untuk satu episode cerita dan dibagi menjadi dua sesi. Serta dilaksankan setiap hari satu kali satu episode, kecuali hari minggu dan libur nasional. Penggunan IT dalam mempromosikan pagelaran wayang kulit yang sangat menarik dan fasilitas yang memadai.
Kata Kunci: Wayang Kulit, Pertunjukan wayang kulit, Upaya pelestarian wayang kulit











PENDAHULUAN
       Wayang kulit merupakan kesenian tradisional rakyat Indonesia yang mampu bertahan dan dapat diakui eksistensinya melampaui lintas zaman dan benua. Jika menengok sejarah budaya jawa, Seni wayang kulit jawa sudah ada sebelum masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia. Wayang kulit sudah berkembang sejak abad ke-15 dan hingga saat ini masih banyak penggemarnya meskipun dari kalangan tertentu. Wayang kulit suatu bentuk kesenian yang menampilkan adegan drama boneka yang terbuat dari kulit binatang, berbentuk pipih diwarnai dan bertangkai. Yang dimainkan oleh seorang dalang dengan menyuguhkan kisah-kisah atau cerita-cerita klasik seperti Ramayana dan Mahabrata, yang dikenal dengan budaya Hindu-India yang diadaptasikan dengan budaya Jawa.
       Dapat diketahui bahwa, wayang kulit yang pada awalnya merupakan ritual dan kesenian rakyat mampu menjelma sebagai sebuah budaya lokal dan mampu bertahan hingga saat ini. Dan perkembangan selanjutnya dilihat dari fungsi dan tujuan pertunjukan wayang kulit memiliki identitas kesenian lokal dan misi keagamaan. Kedua bentuk tersebut tidak lepas dari historisitas pewayangan yang memiliki sebuah alur cerita dan lakon/aktor yang dimainkan oleh Dalang.
       Sebagai sebuah kesenian lokal, wayang kulit menjadi hiburan tersendiri bagi para pegiat sastra dan budaya lokal. Sehingga pertunjukan pewayangan memiliki kecenderungan tematik terhadap gejala sosial. Yang disuguhkan melalui alur cerita yang memiliki muatan kritik sosial dan pembangunan mental bangsa. Yang mencakup permasalahan sosisal kemasyarakatan dengan megandung  unsur pendidikan karakter.
       Orang jawa sangat gemar menonton wayang karena ceritanya sarat akan pelajaran-pelajaran hidup yang sangat berguna yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalani hidup.  Kemunculan wayang kulit memliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yag berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan agama Islam, sementara agama islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa melihat bayangan.
       Pagelaran wayang kulit dimainkan oleh seorang yang kiranya bisa disebut penghibur publik di dunia. Bagaimana tidak, selama semalam suntuk, sang Dalang memainkan seluruh karakter aktor wayang kulit yang merupakan orang-orangan berbahan kulit binatang dihias motif kerajianan tatah sungging (ukir kulit). Ia harus mengubah karakter suara, berganti intonasi, mengeluarkan guyonan dan bahkan menyanyi. Untuk menghidupkan suasana, Dalang dibantu oleh musisi yang memainkan gamelan dan para sinden yang menyanyikan lagu-lagu jawa.
       Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayan, Mahabrata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, juga terdapat buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang selama ratusan tahun telah disukai masyarakat seperti Abimanyu Kerem, Doraweca, suryamatja Maling dan sebagainya. Diantara semua kitab tua yang dipakai, kitab Purwakanda adalah yang paling sering digunakan oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran Wayang kulit dimulai ketika sang Dalang telah mengeluarkan gunungan.
       Seiring perkembangan zaman, keberadaan  seni pewayangan di Yogyakarta saat ini sudah mengalami penurunan minat oleh para masyarakatnya, ditandai dengan berkurangnya minat para generasi muda untuk turut menikmati seluk beluk dunia pewayangan dan pertunjukan wayang kulit itu sendiri, padahal seni wayang kulit dapat dijadikan hiburan dan sarana penyampaian berita ataupun realita-realita kehidupan yang terjadi pada saat ini adalah kekurangannya minat generasi muda terhadap pewayangan ini. Tentunya kelestarian seni wayang kulit di Yogyakarta tidak terlepas dari campur tangan para generasi muda untuk mengenal, mempelajari, mengembangkan dan ikut melestarikan budaya seni wayang kulit di yogyakarta.
       Tujuan penulisan artikel ini untuk memberi informasi kepada pembaca bagaimana proses pewayangan kulit Jawa tentang sejarah sosial-budaya  yang ada pada masa lampau yang menjadi salah satu kesenian nusantara yang ada di Indonesia.













PEMBAHASAN
       Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata “Ma Hyang” yang artinya menuju kepada roh spiritual, dwa, atau yang Maha Esa.  Pada tanggal 7 November 2003, UNESCO telah menetapkan bahwa wayang kulit adalah warisan budaya asli Indoesia. Upaya peletarian kesenian wayang kulit masih terus digalakan terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sampai saat ini pertunjukan wayang kulit masih sering digelar ditempat-tempat tertentu di Yogyakarta. Salah satu nya pagelaran kesenian wayang kulit di Museum Sasono Budoyo, Alun-alun Utara Yogyakarta, pertunjukan wayang kulit berlangsung selama dua jam mulai pukul 20.00 – 22.00 Wib.
       Pertunjukan wayang kulit pada umumnya digelar semalam suntuk dan membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa. Hal ini membuat penikmat wayang dirasa kurang efisien dan efektifitas, menyadari  hal itu durasi waktu pewayangan ini sengaja dimodifikasi menjadi pagelaran wayang kulit yang berdurasi sekitar 2 jam dan  menjadi pagelaran wayang kulit tersingkat satu-satunya di Indonesia yang masih tersisa yang dahulunya pada tahun 80’an ada beberapa pagelaran wayang serupa, tujuannya adalah agar dapat menarik minat masyarakat sebagai penikmat seni wayang dan para generasi muda serta menjaga kelestarian kesenian wayang kulit. Keraton Yogyakarta menjadi tempat penyangga kesenian wayang kulit agar tetap berdiri ditengah laju globalisasi. Dengan dikemas secara menarik, pertujukan wayang kulit dikeraton Yogyakrta cukup mampu meyasar wisatawan domestik maupun mancanegara.
       Setiap wisatawan yang ingin menikmati seni pertunjukan di Museum Sasonobudoyo dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 20.000,00 dan wisatawan yang membawa segala jenis kamera maupun handycam/alat perekam video diwajibkan membayar izin setiap 1 kamera sebesar Rp.3000,00. Tiket masuk dan izin mengambil gambar ini dapat diperoleh di loket Tepas Pariwisata. Pagelaran wayang kulit rutin dilakukan hampir setiap malam yaitu pada hari senin sampai sabtu kecuali pada hari minggu dan hari libur nasional. Saat mewawancarai bapak Basuki selaku penjaga loket tiket, kebanyakan pengunjung adalah wisatawan mancanegara 20 hingga 40 pengunjung setiap harinya dan ada atau tidaknya pengunjung tetap pagelaran akan berjalan.
       Wayang kulit dimainkan oleh seorang Dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi musik gamelan. Pemain musik gamelan disebut dengan Niyaga serta diiringi oleh para sinden yaitu tembang. Dalang memainkan wayang kulit didepan kelir yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara didepannya kelir disorotkan lampu listrik sehingga para penonton yang berada disisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir, terdapat 4 sinden atau swarawati dan setiap satu instrumen musik terdapat satu Niyaga. Ketika Dalang memainkan peran pada karakter wayang, semua instrumen musik pada gamelan mengikuti panduan ketukan dari dalang menggunakan alat yang disebut Cempala dalam bahasa jawa disebut ”Cempolo” , ketukan dapat menandai dengan dimulainya episode. Cempala terdiri dari dua buah yaitu Cempala kecil dan besar, cempala besar terbuat dari kayu keras dan dipegang ditangan Dalang dan diketukan pada bagian dalam kotak depan kelir sedangkan Cempala kecil ukuran separuh dari Cempala besar, terbuat dari kayu atau logam dijepit dijari kaki kanan dan dapat diketukan pada sisi luar kotak penyimpangan wayang. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil dilayar.
       Terdapat kothak didekat Dalang yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan wayang kulit, terbuat dari kayu yag di ukir. Pada kelir (layar putih) terdapat 3 wayang kulit Gunungan, wayang kulit yang akan dimainkan dimasukkan kedalam kotak dan selebihnya tidak dimainkan di jajarkan disamping kanan dan kiri layar pagelaran wayang kulit. Pada kelir dibagi tiga bagian, pertama bagian atas yang disebut langitan, bagian tengah Jagatan dan bagian bawah Palemahan. Sisi kanan kiri kelir dijahit berlubang untuk tempat meletakan sligii, semacam tiang kecil yang terbuat dari bambu untuk membentang kelir yang ditancapkan pada batang pisang dibagian bawahnya, sedangkan bagian atas dihubungankan dengan Gawangan kelir. Batang pisang atau debog pada diletakan pada bagian bawah , samping kanan dan kiri kelir  sebagai tempat pijakan wayang kulit yaitu dengan cara ditancapkan.
       Gamelan adalah alat musik tradisional yang kebanyakan merupakan instrumen pukul terbuat dari perunggu berualitas baik atau dapat juga dari besi kecuali kendang dan bedhug. Instrumen yang dimainkan saat pagelaran wayang kulit berlangsung yaitu:
1.      Kenong, dengan cara dipukul diletakan ditempat ayunan dan suara kenong paling tinggi dan kecil. Menimbulkan bunyi Neng (Meneng, Diam), Ning (Wening, Berfikir), Nung (ndhuNung, berdo’a) Nang (meNang, Kemenagan), Nong (Tuhan).
2.      Gong, bermakna agung atau besar, mengandung arti bahwa Tuhan itu, Allah maha besar, segala sesuatu terjadi kehendak Allah.
a. Gong Suwuk atau siyem, dengan cara dipukul sebagai tanda akhir langgam musik sebelum gong Ageng dpukul dan ukurannya lebih kecil daripada gong Ageng serta mempunyai nada lebih tinggi.
b. Gong Ageng, dengan cara dipukul yaitu mempunyai nada yang paling rendah dibanding suara peralatan gamelan yang lain serta gong Ageng sebgai tanda akhir langgam musik yang disebut gongan.

3.      Kethuk, merupakan instrumen gamelan yang berbunyi thuk saat ditabuh/ dipukul diletakan mirip ayunan hampir sama dengan kenong. Kata thuk bagi orang jawa diartikan sebagai manthuk yang artinya setuju, yang dimaksudkaan agar manusia haruslah setuju dengan semua perintah dan larangan sang pencipta.
4.      Bonang barung yaitu beroktaf tengah sampai tinggi yang jika kita dengar berbunyi nang, memainkannya dengan cara ditabuh  dan berbunyi nang yang diletakan seperti ayunan tidak digantung seperti gong. Kata nang ini  orang Jawa diartikan sadar yang memiliki makna filosofid, setelah manusia terlahir harus bisa berfikir dengan hati yang jernih sehingga keputusan yang diambil dengan penuh kesadaran.
5.      Rebab, merupakan salah satu alat gamelan yang dibunyikan terlebih dahulu jika gender tidak ada dan dimainkan dengan cara dipetik dengan menggunakan jari tangan yang berfungsi sebagai pelengkap untuk megiringi nyanyian dan menuntun arah lagu sinden. Adapun makna filosofis dari rebab ini adalah bertujuan atau keinginan dari suatu tindakandengan pekerti yang luhur.
6.      Kendhang, dibuat  dengan menggunakan kayu nangka dan juga  dipukul dengan telapak tangan kombinasi antara telapak dengan jari dan juga tak bernada yang berfungsi mengatur irama dam kelompok. Kendhang merupakan pimpinan dalam permainan musik gamelan, kendhang juga mengendalikan irama cepat atau lambat dalam permainan gamelan. Kata kendang diambil dari bunyi alat musik ini saat dimainkan yaitu berbunyi dang. Adapun filosofinya dari ndang merupakan kata kerja yang memiliki arti bersegeralah dalam beribadah kepada sang maha cipta.
7.      Balungan
a. saron, yaitu dibuat dengan bahan besi, kayu, karet, dan paku dengan bentuk seperti lesung kecil dan dimainkan dengan cara dipukul yaitu berukuran sedang dan beroktaf tinggi. Kata saron ini dalah basaha jawa dinamakan sero yang artinya keras atau seru.
b. Demung, dengan cara dipukul yaitu berukuran besar dan beroktaf tengah.
c. Peking, dengan cara di pukul berbetuk saron paling kecil dan beroktaf tinggi.
9. Gender
a. gender barung, dengan cara dipukul yaitu berukuran besar dan beroktaf rendah sampai tengah. Gender barung meminkan pola-pola lagu berketukan ajeg (cengkok). Dalam pertunjukan wayang gender mempunyai peran utama harus memainkan instumennya hampir tidak pernah berhenti . Gender berasal dari kata gendera yang berarti bendera, bendera juga merupakan simbol permulaan.
b. selenthem, dengan cara dipukul yaitu gema yang mengikuti nada saron dan balungan bila ditabuh.
10. Gambang, dengan cara dipukul hampir sama seperti saron namun ukurannya lebih besar dan   memilih nada lebih rendah. Gambang berasala dari kata gamblang yang berarti seimbang dan jelas, yang menunjukan adanya keseimbangan anatara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
11. Suling, dengan cara di tiup yaitu dapat mengasilkan suara yang meliuk-liuk, dengan cengkok dan warna bunyi yang sangat khas dan alamiah. Dalam bahasa Jawa, filosofis suling yaitu elingg yang artinya ingat, maksudnya agar manusia selalu ingat akan kewajibannya.
       Pada saat membeli tiket masuk petugas loket akan memberikan sebuah tiket masuk, tiket pengambilan foto serta brosur yang di desain dengan menarik  yang berisikan tentang kisah atau penjelasan alur cerita yaitu 1 episode yang dibagi menjadi dua sesi pembagian cerita  serta berisi gambar dan nama tokoh karakter wayang yang akan dimainkan, terdapat juga profil Museum Sasonobudoyo yang menggunakan bahasa Inggris. Setiap satu hari sekali pagelaran wayang kulit dimainkan dalam 1 episode dan terdapat jadwal episode yang sudah ditetapkan dan diumumkan oleh pihak Museum Sasonobudoyo melalui media internet atau datang langsung ke Museum Sasonobuyo.
       Kesenian wayang kulit terdapat nilai-nilai budaya yaitu adanyan konsep mengenai apa yang hidup yaitu dalam pikiran masyarakat Indonesia mengenai apa yang dianggap meiliki nilai, berharga yang di anggap penting dalam hidup, dunia perwayanagan juga sangat kaya akan lambang atau pasemon (petuah) yang berupa pesan yang dapat bernilai adiluhung. Pagelaran wayang kulit juga sebagai ilmuu yang mengajarkan manuasia “bagaimana seharusnya hidup”  atau bagaimana mejadi manusia yang bijaksana dan mendidik manusia kearah tingkah laku yang baik yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Terutama banyak hikmah dari cerita wayang yaitu sebuah nilai moral.
                       














PENUTUP
A. Kesimpulan
            Wayang kulit merupakan kesenian tradisional rakyat Indonesia yang mampu bertahan dan dapat diakui eksistensinya melampaui lintas zaman dan benua, Seni wayang kulit jawa sudah ada sebelum masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia. Pertunjukan pewayangan memiliki kecenderungan tematik terhadap gejala sosial. Yang disuguhkan melalui alur cerita yang memiliki muatan kritik sosial dan pembangunan mental bangsa. Yang mencakup permasalahan sosial kemasyarakatan dengan mengandung  unsur pendidikan karakter. Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayan, Mahabrata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Seiring perkembangan zaman, keberadaan  seni pewayangan di Yogyakarta saat ini sudah mengalami penurunan minat oleh para masyarakatnya, ditandai dengan berkurangnya minat para generasi muda untuk turut menikmati seluk beluk dunia pewayangan dan pertunjukan wayang kulit itu sendiri.
            Dapat diketahui bahwa, wayang kulit yang pada awalnya merupakan ritual dan kesenian rakyat mampu menjelma sebagai sebuah budaya lokal dan mampu bertahan hingga saat ini. Dan perkembangan selanjutnya dilihat dari fungsi dan tujuan pertunjukan wayang kulit memiliki identitas kesenian lokal dan misi keagamaan. Upaya peletarian kesenian wayang kulit masih terus digalakan terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta, sampai saat ini pertunjukan wayang kulit masih sering digelar ditempat-tempat tertentu di Yogyakarta. Salah satu nya pagelaran kesenian wayang kulit di Museum Sasono Budoyo, Alun-alun Utara Yogyakarta
            Pertunjukan wayang kulit pada umumnya digelar semalam suntuk. Membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa. Hal ini membuat penikmat wyang dirasa kurang efisien dan efektifitas, menyadari hal itu durasi waktu pewayangan ini sengaja dimodifikasi menjadi pagelaran wayang kulit yang berdurasi sekitar 2 jam, tujuannya adalah agar dapat menarik minat masyarakat sebagai penikmat seni wayang dan para generasi muda serta menjaga kelestarian kesenian wayang kulit. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi musik gamelan
            Kesenian wayang kulit terdapat nilai-nilai budaya yaitu adanyan konsep mengenai apa yang hidup yaitu dalam pikiran masyarakat Indonesia mengenai apa yang dianggap meiliki nilai, berharga yang di anggap penting dalam hidup. Pagelaran wayang kulit juga sebagai ilmuu yang mengajarkan manuasia “bagaimana seharusnya hidup”  atau bagaimana mejadi manusia yang bijaksana dan mendidik manusia kearah tingkah laku yang baik yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Terutama banyak hikmah dari cerita wayang yaitu sebuah nilai moral.


DAFTAR PUSTAKA
Mulyono, Sri.1975. Wayang, Asal-usul, Filosofis, dan Masa Depannya.Jakarta: Haji Masagung
R., Sutrisno.1983. Sekilas Dunia Wayang dan Sejarahnya.Surakarta:ASK
Http://id.m.wikipedia.org/wiki/Dalang (diakses pada tanggal 22 April)
Http://id.m.wikipedia.org/wiki/Wayangkulit (diakses pada tanggal 22 April)
Http://majalahpendidikan.com/observasi-pengertian-manfaat-jeni-dan-tujuan/ (diakses pada tanggal 22 April)
Http://eprints.ums.ac.id/41375/5/bab201.pdf (diakses pada tanggal 22 April)
Https://www.kompasiana.com>hrayana (diakses pada tanggal 22 April)
Http://www.yoges.com/id/yogyakarta-tourism-object/arts-and-culture/wayang-kulit-show/(diakses pada tanggal 22 April)















LAMPIRAN
  
 
 





Brosur
 

 
Tiket masuk dan tiket foto


TRADISI NYADRAN DI MAKAM SEWU DIWIJIRWJO PANDAK BANTUL

Oleh : Febriana SiskaWati (2017015260) Febrianasiska123@gmail.com Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ABSTRAK Tulisan ini m...