Tampilkan postingan dengan label Bersih Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bersih Desa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2019

MERTI DUSUN KALIALANG, KALITEKUK, SEMIN, GUNUNGKIDUL



Lulu Afiah Jayusman
2017015032/6B

Abstrack
Merti dusun atau rasulan adalah bersih desa atau membersihkan desa, bersih desa dilakukan setiap setahun sekali yang dilaksanakan pada bulan yang ditentukan dan bertepaatan dengan hari Kamis pahing. Artinya membersihkan desa dengan cara menggelar acara wayang kulit, membuat sajian makanan nasi tumpeng dan ingkung serta terdapat ledek yang turut memeriahkan acara merti dusun. Ledek yaitu penari perempuan yang memakai baju kemben dan selendang. Menari dengan diiringi alunan musik dari gamelan. Penari tersebut berjoget dan biasanya dikelilingi oleh masyarakat tua atau muda untuk menemaninya menari atau sering disebut dengan istilah ngibing. Bagi masyarakat atau ibu-ibu yang mempunyai anak bayi sekitar umur 1 bulan – 5 tahun biasanya membawa anaknya kedepan penari untuk dicium oleh penari. Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kalialang adalah  balita yang dicium oleh penari konon katanya akan terhindar dari mara bahaya dan orangtua dari balita tersebut harus membawa beras segenggam dan gula jawa yang ditaruh diwadah. Beras dan gula jawa tersebut diberikan kepada penari, setelah itu penari akan menyebar beras tersebut secara cuma-cuma. Masyarakat membuat nasi tumpeng dan ingkung ayam kampung dikumpulkan di rumah kepala desa atau ketua RT setempat untuk diberi doa. Setelah dikumpulkan ingkung ayam tersebut dibagi rata lagi kepada masyarakat sekitar dan menyisakan sedikit bagian untuk dibuat sebagai sesajen yang diletakkan di pohon beringin besar. Setelah makanan tersebut diberi doa selanjutnya masyarakat membawa pulang kembali makanan tersebut kerumahnya masing-masing. Setelah itu dilanjutkan pada acara malam harinya yaitu pagelaran wayang kulit dan karawitan di balai desa. Budaya tersebut sudah menjadi tradisi oleh masyarakat Kalialang.
Kata kunci : Bersih, Membersihkan, Desa




A.    Latar Belakang
Kebudayaan di Indonesia sangat beraneka ragam salah satunya adalah adat istiadat yang sangat melekat dan turun termurun dari nenek moyang zaman dahulu. Seperti adat istiadat yang ada di desa Kalialang, Kalitekuk, Semin, Gunungkidul yaitu adat merti dusun atau bersih desa. Adat merti dusun ini dilaksanakan setiap setaun sekali pada bulan yaang ditentukan dan bertepatan dengan hari Kamis pahing. Adat tersebut sudah sejak dahulu dilakukan dan menurut kepercayaan masyarakat setempat bersih dusun dilakukan adalah untuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan nikmat berupa padi yang subur serta tanah yang subur. Dalam pelaksanaan bersih dusun tersebut terdapat acara yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kalialang, seperti pertunjukan wayang kulit, seni karawitan dan ledek (penari yang menggunakan pakaian kemben dan selendang). Cara tersebut dilakukan di balai desa setempat.
Masyarakat desa Kalialang setiap merti dusun selalu menyajikan hidangan seperti nasi tumpeng, ingkung ayam kampung, rempeyek dan buah pisang. Setiap rumah memasak sajian tersebut dan pada sore hari setelah sholat ashar sajian tersebut dibawa kerumah ketua RT untuk didoakan bersama-sama. Warga berkumpul dirumah ketua RT selain untuk mendoakan sajian makanan tersebut juga untuk menjaga silaturahmi antara warga. Setelah selesai lalu warga membawa pulang lagi sajian masakan tersebut dan dilanjutkan pada acara malam hari. Ketika malam hari seluruh warga berkumpul di balai desa untuk melihat pertunjukan wayang dan karawitan. Acara bersih desa ini sangat meriah karena wargaa sangat antusias dengan adat desa tersebut, mengingat adat tersebut dilakukan hanya dalam setahun sekali.
Adat merti dusun tersebut sudah menjadi adat turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Kalialang. Walaupun zaman sudah berkembang akan tetapi masyarakat Kalialang tidak meninggalakan adat tersebut. Adat ini sudah turun temurun dari zaman nenek moyang, sehingga saya sebagai anak muda yang akan meneruskan atau menjaga adat yang ada di desa Kalialang.
B.     Tujuan Penulisan
Penulisan tentang adat merti dusun yang ada di dusun Kalialang bertujuan untuk menambah wawasan dan ilmu saya tentang pentingnya adat istiadat yang ada di daerah. Selain itu penulisan ini saya lakukan untuk lebih mendalami makna yang terkandung dalam adat merti dusun di Kalialang. Dan penulisan ini saya buat agar orang lain membaca dan dapat mengetahui tentang adat yang ada di dusun Kalialang, dapat juga menambah wawasan pembaca.

ISI
Jawa merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia, hal ini menyebabkan suku ini memiliki budaya, kebiasaan, adat istiadat, makanan, ritual keagamaan yang sangat terkenal. Di dusun saya Kalialang juga mempunyai kebudayaan yang sudah turun menurun dilakukan oleh masyarakat setempat. Kebudayaan tersebut ialah merti dusun atau bersih desa. Bersih desa tersebut dilakukan setahun sekali pada bulan tertentu dan pada hari Kamis pahing. Bersih dusun tersebut menurut keyakinan masyarakat setempat adalah bukti rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat setempat dan dusun Kalialang. Ketika dalam upacara merti dusun terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat, yaitu : kegiatan pagelaran penari ledek, kenduri atau kondangan dan pagelaran wayang kulit.
Pagelaran penari ledek dilakukan dipinggir sungai yang ada di dusun Kalialang. Dalam pagelaran ledek tersebut mempunyai makna untuk menghibur warga masyarakat dusun Kalialang. Pagelaran penari ledek ini dilakukan atau ditampilkan pada siang hari. Masyarakat setempat beramai-ramai memadati tempat yang digunakan oleh penari ldek tersebut. Selain untuk melihat pertunjukan penari tersebut tidak jarang masyarakat ikut serta menari dengan penari ledek. Setelah penari ledek tersebut menari di pinggiran sungai lalu penari tersebut melanjutkan menari di balai dusun dengan diiringi musik gamelan. Gamelan adalah alat musik yang berasal dari daerah Jawa. Penari ledek menari mengikuti irama musik gamelan yang dimainkan oleh masyarakat sekitar. Penari ledek menggunakan pakaian kemben dan menggunakan properti selendang, selain itu penari ledek dirias dan menggunakan sanggul dan konde. Penari ledek biasanya berjumlah 2 sampai 3 orang tergantung masyarakat sekitar yang meminta. Selain berparas cantik penari ledek harus mempunyai sifat yang dibawakan ketika menari seperti sifat ramah tamah kepada masyarakat, murah senyum dan tidak kaku kepada masyarakat.
Ketika sudah memasuki waktu setelah ashar masyarakat berkumpul dirumah salah satu ketua RT untuk melaksanakan kenduri atau kondangan dengan membawa nasi tumpeng ingkung. Ingkung ayam kampung merupakan salah satu makanan khas Jawa yang berbahan dasar ayam yang dibumbui dan disajikan satu ekor utuh ayam tanpa dipotong. Nasi tumpeng ingkung ini mempunyai makna yang diyakini masyarakat setempat yaitu manusia diharapkan dapat berperilaku seperti ayam. Karena ayam jika diberi makanan tidaklah langsung dimakan akan tetapi akan dipilih dahulu mana yang baik dan mana yang tidak. Dengan demikian manusia diharapkan mampu memilih mana hal baik yang harus dilakukan dan mana hal buruk yang harus ditinggalkan. Kepala dusun memimpin acara kenduri tersebut dan diikuti oleh masyarakat setempat. Sebelum nasi tumpeng ingkung dibagikan kepada masyarakat dan dimakan bersama-sama kepala dusun terlebih dahulu mengajak masyarakat setempat untuk membaca doa terlebih dahulu dengan tujuan agar makanan tersebut berkah untuk masyarakat setempat. Setelah membaca doa masyarakat setempat secara bersama-sama memakan nasi tumpeng ingkung tersebut. Kenduri ini juga bertujuan untuk mengakrabkan warga setempat dengan cara berkumpul bersama dan dilanjutkan makan bersama. Kenduri atau kondangan ini tidak hanya diikuti oleh orang tua saja melainkan juga diikuti oleh anak kecil sampai dewasa. Semua ikut berkumpul untuk menjadi satu pada acara merti dusun yang dilakukan setahun sekali pada bulan tertentu dan pada hari tertentu.
Setelah kegiatan kenduri tersebut selesai selanjutnya pada malam hari dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang kulit dilakukan di  balai dusun Kalialang. Pagelaran wayang kulit ini mempunyai makna filosofi, ajaran-ajaran budi pekerti dan kebathinan, sekaligus menjadi wadah kepandaian atau kelebihan dibidang masing-masing sepeti dalang, sinden saat menembang lagu jawa, dalam bidang karawitan dan tontonan atau seni drama yang dibawakan oleh dalang agar masyarakat dapat memetik hikmah dari suatu cerita wayang yang dibawakan oleh dalang. Pagelaran wayang kulit ini sangat digemari oleh masyarakat setempat karena dapat menjadi nilai hiburan bagi warga sekitar, selain dapat menjadi hiburan bagi warga setempat pagelaran wayang ini juga dapat melestarikan budaya Jawa. Pagelaran wayang tidak hanya diminati oleh orang tua saja akan tetapi banyak juga anak muda yang menonton pagelaran wayang ini. Selain menonton pagelaran wayang tersebut anak muda juga menyimak cerita wayang yang dibawakan oleh dalang.
Dari ketiga rangkaian acara merti dusun tersebut mempunyai nilai budaya yang dapat dikembangkan oleh generasi penerus seperti anak muda. Generasi muda harus menjaga budaya yang ada di dusun setempat agar kedepannya budaya merti dusun tersebut dapat terus dilakukan oleh generasi penerus. Nilai budaya yang dapat dipetik dari budaya didaerah Kalialang yaitu kita sebagai generasi muda harus bisa menjaga dan melestarikan budaya yang telah dimiliki daerah kita. Selain dari nilai budaya terdapat pula nilai sosial yang dapat dipetik yaitu kita sebagai warga yang bermasyarakat harus pandai untuk bersosialisasi dengan warga lain. Dalam acara merti dusun ini kita dapat berkumpul dengan masyarakat setempat. Saling tolong menolong, gotong royong dan kekompakan warga sekitar dalam menyiapkan acara untuk merti dusun dengan tujuan untuk mengakrabkan warga setempat. Nilai agama yang dapat diambil dari budaya merti dusun di daerah Kalialang adalah masyarakat dapat menysukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan kepada warga setempat. Merti dusun dilakukan sebagai wujud rasa terimakasih kepada Tuhan karena telah diberikan nikmat yang berlimpah. Ketika acara merti dusun warga setempat yang memainkan alat musik tradisional menggunakan pakaian adat Jawa. Dengan menggunakan atasan kebaya dan bawahan jarik. Pakaian tradisional tersebut mempunyai nilai untuk nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa, agar budaya Jawa selalu dikembangkan dan diteruskan oleh generasi penerus.

1.      Anggota karawitan



2.      Penari ledek yang sedang menari di Balai desa

3.      Nasi tumpeng ingkung


4.      Pagelaran wayang kulit


C.     Kesimpulan
Dari penjabaran tentang budaya yang ada di daerah Kalialang dapat disimpulkan bahwa budaya tersebut sudah turun temurun dilakukan oleh masyarakat setempat. Budaya yang ada di dusun Kalialang salah satunya yang saya jabarkan adalah budaya merti dusun atau bersih desa. Merti dusun dilakukan sebagai wujud rasa bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan kepada warga masyarakat setempat. Budaya merti dusun tersebut sampai sekarang masih dilestarikan oleh warga setempat, acara merti dusun dilakukan setiap setahun sekali pada bulan tertentu dan pada hari yang jatuh pada Kamis pahing. Di dalam acara merti dusun terdapat tiga rangkaian acara yaitu pagelaran penari ledek, kenduri atau kondangan dengan membawa nasi tumpeng ingkung dan pagelaran wayang kulit. Nilai yang dapat diambil dari budaya merti dusun tersebut adalah kita sebagai generasi muda harus menjaga dan dapat melestarikan budaya yang ada di daerah setempat seperti merti dusun atau bersih desa.

            Sumber : wawancara dengan sesepuh desa pada tanggal 21 April 2019.

BERSIH DUSUN/ RASULAN DUSUN PLARUNG, DESA SAWAHAN, KECAMATAN PONJONG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, D.I. YOGYAKARTA



Oleh    : Tyas Saraswati
NIM    : 2017015027
Abstrak
Bersih desa merupakan salah satu tradisi turun temurun kebudayaan masyarakat tertentu. Kegiatan bersih desa digunakan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup kegiatan bersih dusun di Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.
Penelitian ini dilakukan dengan metode pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan, yaitu: bersih dusun dilaksanakan setiap tahun. Bersih dusun bertujuan untuk menghormati atau membantu mengirim do'a untuk penjaga desa yang tidak nyata. Untuk rasa syukur kepada Tuhan YME atas berkah yang diberikan selama ini dan sebagai ritual tolak bala agar terhindar dari mara bahaya. Melalui pola-pola kebudayaan ini manusia menafsirkan lingkungan alam dengan seluruh isinya, sebagai wujud bersatunya manusia dengan alam. Kerja bakti dengan seluruh warga dalam salah satu kegiatan bersih dusun merupakan contoh salah satu upaya yang harus dilakukan.
Kata Kunci: bersih desa.

 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Upacara
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk, beribu-ribu suku bangsa ada di dalamnya dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda. Keanekaragaman kebudayaan di Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai, dimana kekayaan itu perlu dilestarikan dan dikembangkan sehingga sifat kebineka tunggalikaan yang ada di Indonesia itu dapat dipahami terus dari generasi ke generasi.
Menurut Koentjaraningrat (1993:9), kebudayaan adalah “keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, berserta keseluruhan dari hasil budi dan karya”. Upacara tradisional sangat penting untuk orang jawa yang masih melestarikan tradisi leluhur. Upacara yang merupakan warisan leluhur yang telah berumur ratusan tahun sampai saat ini masih terjaga secara utuh, setiap 2 masyarakat memiliki tradisi dimana tradisi itu ada yang masih berlangsung hingga sekarang, ada juga yang hampir hilang bahkan ada yang telah hilang ditelan zaman. Upacara tradisi merupakan perwujudan bagian tradisi masyarakat yang sesungguhnya merupakan implementasi kebudayaan dari suatu masyarakat. Upacara tradisi merupakan upaya penyampaian pesan budaya yang telah lama digunakan jauh sebelum manusia mengenal tulisan, bahkan sebagian besar masyarakat tetap mempertahankan atau melestarikan upacara tradisi sebagai upaya berbagai kepentingan termasuk mempertahankan atau melestarikan budaya yang ada di masyarakat sesuai perkembangan globalisasi .
Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul mempunyai beragam budaya tradisi yang masih diselenggarakan secara turun temurun di tengah-tengah masyarakat, serta ditengah berkembangnya budaya manca negara yang bisa membuat lupa akan adat ketimuran, namun di wilayah ini di tiap desa mempunyai upacara tradisi yang tetap dilestarikan dan diselenggarakan secara rutin sampai sekarang. Seperti di dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, yang mempunyai tradisi bersih dusun dan sedekah bumi yang dinamakan Rasulan. Setiap warga memasak aneka olahan makanan, kemudian warga membawa masakan dibawa ke balai dusun yang digunakan sebagai tempat diadakannya kenduri dan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh dusun. Ritual bersih dusun Rasulan tersebut mengandung unsur-unsur simbolik yang memiliki makna tersendiri, di dalamnya termuat pesan-pesan tertentu yang ditujukan kepada individu atau kelompok. Simbol-simbol tersebut secara tidak langsung menghubungkan manusia dengan kekuatan yang ada di sekitarnya dan dengan Tuhan. Upacara ritual bersih dusun Rasulan merupakan pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan, sebelum pelaksanaan upacara bersih dusun penduduk dusun mengadakan persiapan yang cermat yang dipimpin olek sesepuh dan dibantu oleh panitia. Penduduk dusun bersama-sama membersihkan dusunnya secara fisik antara lain memperbaiki jalan , saluran irigrasi, membersihkan sungai dan pohon besar yang ada di sungai yang mereka sebut dengan Resan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui prosesi bersih desa/ Rasulan, ubarampe yang digunakan dalam prosesi bersih desa/ Rasulan tersebut,  nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan bersih desa/ Rasulan tersebut.
PEMBAHASAN
Banyak desa di Jawa yang masih setia melaksanakan upacara bersih desa, tetapi beberapa desa mempunyai waktu yang tetap untuk melakukan bersih desa tersebut berdasarkan bulan jawa, misalnya diadakan pada setiap bulan Suro atau Sapar. Oleh karena itu penting untuk mengetahui kalender Jawa, karena semua upacara tradisional dilaksanakan atas dasar perhitungan kalender Jawa. Menurut Negoro (2001:57-60), bersih desa adalah “upacara tradisional dimana para warga desa menyatakan syukur atas hasil panen yang baik sehingga mereka bisa hidup dengan bahagia mempunyai cukup sandang dan pangan, hidup selamat dan berkecukupan”. Kata lain untuk bersih desa adalah Merti Desa atau ada yang mengatakan Sedekah Bumi yang secara harfiah berarti sesaji kepada tanah (dimana mereka hidup).
Sebagai dusun yang masih memegang teguh nilai nilai budaya leluhur Dusun Plarung, Desa Sawahan, sangat memperhatikan kearifan nilai budaya lokal. Seperti pelaksanaan bersih dusun atau biasa disebut dengan Rasulan yang di laksanakan pada bulan Muharram atau bulan Suro meurut penanggalan Jawa. Disamping sebagai upaya pelestarian nilai nilai budaya lokal juga sebagai perwujudan dari rasa syukur kepada Tuhan Yang MAHA Esa yang telah memberikan ketentraman kepada masyarakat.
Ritual bersih dusun tidak selalu sama antara dusun satu dengan dusun yang lainya. Karena leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda beda. Bisa jadi ritual bersih dusun yang ada di dusun Plarung akan berbeda dengan ritual bersih dusun yang ada di luar dusun Plarung. Meski berbeda secara ritual  namun tujuannya adalah sama sebagai perwujudan sinerginya manusia  dengan alam.

Bersih dusun atau Rasulan di dusun Plarung dilaksanakan dalam tahapan:
1.      Sajen
Membuat sajen berupa ingkung, uduk (nasi uduk), kelapa muda (degan), banyu kendi (air kendi), jadah (dari beras ketan), pisang raja 1 tangkep, wajik (dari beras ketan), lempeng (dari singkong), jungkat suri cupu (sisir), panjang ilan (sajen berupa makanan-makanan).
Sajen-sajen tersebut kemudian dibawa ke pohon besar yang ada di sungai atau biasa disebut Resan, untuk disajikan kepada arwah nenek moyang yang berada di tempat tersebut. Filosofi dari adanya sajen adalah untuk menyedekahkan hasil bumi, sebagai bentuk rasa syukur karena telah diberi hasil panen yang melimpah dan berkah.
2.      Genduri
Genduri dilaksanakan di balai dusun Plarung yang dihadiri oleh semua warga masyarakat dusun tersebut. Namun, yang boleh menghadiri acara genduri tersebut hanya kaum laki-laki saja. Kegiatan genduri dimulai pukul 16.00 waktu setempat sampai dengan selesai. Para warga menghadiri genduri dengan membawa nasi dan ingkung (ayam yang dipanggang) lalu diletakkan di sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu atau biasa disebut tampah.
Setelah seluruh warga berkumpul, seluruh nasi ingkung tadi dikumpulkan jadi satu kemudian acara genduri dipimpin oleh ketua adat/ pemangku adat dengan membacakan do’a-do’a tertentu. Selanjutnya setelah selesai dido’akan oleh pemangku adat, seluruh nasi ingkung dibagi-bagi sesama warga yang menghadiri acara tersebut dengan filosofi supaya warga saling merasakan hasil panennya. Jika acara sudah selesai, warga masyarakat berbondong-bondong untuk pulang ke rumah masing-masing dengan membawa nasi ingkung yang telah mereka tukar sesame warga tadi.


3.      Tayub/ Ledekan
   Setelah acara genduri selesai, kemudian dilanjutkan dengan seni pertunjukkan tari atau disebut Tayub/ Ledekan. Kata  tayub  dari  bahasa  Jawa  terdiri  dari mataya yang  berarti  tari,dan guyub yang  artinya  rukun  bersama. Artinya,  pertunjukan  tayub  adalah  tari  yang  disajikan secara   bersama-sama   antara   penari   wanita   dengan   pengibing   sebagai   simbol kesuburan.   Relasi   antara   pelaku  upacara   dengan   warga   masyarakat   merupakan prasyarat  sahnya  sebuah  upacara,  terutama  makna  simbolis  penari  tayub  sebagai media  pengantar  upacara  dan pengibing sebagai  wakil  jemaat,  yakni  sebuah  ritus yang  bersifat  magis  simpatetis  atau  magis  yang  mempengaruhi  kesuburan  manusia  dan  alam  sekitarnya. Di  samping  fungsi  ritualnya,  kesenian  tayub  memiliki  fungsi sosial    sebagai  sebuah  hiburan  bagi  masyarakat,  terutama  para  pengibing  dari kalangan  laki-kali,  sehingga  kesenian  tayub  juga  disebut  sebagai  tari  pergaulan  pria dan    wanita.  Eksistensi    tayub    sebagai    ekspresi    kolektif    pada    hakekatnya mencerminkan aktualisasi eksistensi estetis, eksistensi etis, dan eksistensi religious.
Nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan bersih dusun/ Rasulan:
1.      Nilai Sosial
Dengan adanya kegiatan bersih dusun/ Rasulan dapat menumbuhkan sikap gotong royong masyarakat, sehingga silaturohmi antar warga dapat terbina dengan baik dan mempererat tali persaudaraan dalam masyarakat.
2.      Nilai Budaya
Dengan adanya kegiatan bersih dusun/Rasulan dapat menambah keanekaragaman budaya tradisional di dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.
3.      Nilai Pendidikan
Menambah pengetahuan bagi masyarakat lokal maupun masyarakat lain tentang keanekaragaman budaya yang ada di sekitar kita.
4.      Nilai Spiritual
Dengan diadakannya kegiatan bersih dusun tersebut, masyarakat menjadi lebih bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah diberikan ketentraman di dusun tersebut, dan juga bersyukur karena telah diberikan hasil bumi yang berkah.
5.      Nilai Ekonomis
Dalam kegiatan bersih dusun ini, masyarakat lebih banyak memanfaatkan atau menggunakan bahan dari hasil panen/ hasil bumi mereka, sehingga menjadi lebih ekonomis.
6.      Nilai Hiburan
Masyarakat setempat atau daerah lain merasa terhibur dengan adanya kegiatan bersih dusun ini, karena pada malam hari terdapat tayub/tarian yang dilaksanakan di balai dusun. Biasanya maasyarakat menyaksikan pertunjukan tersebut dengan keluarga maupun sanak saudaranya.
            Kegiatan bersih dusun/ Rasulan ini memiliki makna atau filosofis, yaitu sebagai perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan ketentraman pada masyarkat tersebut, diberi kesehatan, dan diberi hasil yang baik disetiap pekerjaan yang dilakukan masyarakat tersebut. 

Ritual bersih dusun tidak selalu sama antara dusun satu dengan dusun yang lainya.Karena leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda beda.Bisa jadi ritual bersih dusun yang ada di dusun Plarung akan berbeda dengan ritual bersih dusun yang ada di luar dusun Plarung. Meski berbeda secara ritual  namun tujuannya adalah sama sebagai perwujudan sinerginya manusia  dengan alam. Bersih dusun atau Rasulan di dusun Plarung dilaksanakan dalam tahapan: Pemberian sajen, genduri, dan tayub/ledekan.
Dari uraian diatas penulis berharap agar pembaca dapat mengetahui kebudayaan di daerah masing-masing, berusaha melestarikan kebudayaan tersebut, dan bangga akan keanekaragaman budaya di Indonesia.
  
http://senseleaf.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli.html.

TRADISI NYADRAN DI MAKAM SEWU DIWIJIRWJO PANDAK BANTUL

Oleh : Febriana SiskaWati (2017015260) Febrianasiska123@gmail.com Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ABSTRAK Tulisan ini m...