Tampilkan postingan dengan label Gunung Kidul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung Kidul. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2019

UPACARA BERSIH DUSUN TEGAL SARI DESA SEMIN KECAMATAN SEMIN KABUPATEN GUNUNGKIDUL




LISTA OKTAVIANA
(2017015035)
Abstrak
Upacara Bersih Dusun Tegalsari merupakan kategori kesenian tradisional, yang termasuk bagian dari keanekaragaman kebudayaan Indonesia di seluruh plosok tanah air.Tegalsari merupakan sebuah dusun yang terletak di desa Semin,kabupaten Gunungkidul,Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Tegalsari merupakan dusun yang orang-orangnya sangatlah ramah dan gotong royong.Tegalsari memiliki tradisi yang sangat bermacam-macam salah satunya yaitu tradisi upacara bersih dusun yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada bulan sapar yang identik dengan kegiatan merti dusun atau memelihara dusun.Setiap profesi tradisi memiliki makna dan fungsi tersendiri yang digunakan sebagai pedoman masyarakat.Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang datanya bersifat deskripsi, dengan itu penelitian ini memberikan gambaran tentang seluk beluk  upacara Bersih Dusun Tegalsari Lokasi penelitian berada di Dusun Tegalsari Desa Semin Kabupaten Gunungkidul.Sasaran penelitian adalah bentuk pertunjukan,perlengkapan upacara,fungsi dan makna simbolik upacara bersih dusun Trgalsari.Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi,teknik wawancara dan teknik dokumentasi.Hasil penelitian menunjukan bahwa budaya atau adat istiadat masyarakat dusun Tegalsari berpengaruh terhadap keberadaan upacara bersih dusun tegalsari,terutama dalam bentuk pertunjukan,fungsi dan makna simboliknya.Sebagai ritual adat istiadat upacara  dusun Tegalsari di desa Semin berperan penting bagi masyarakat sekitar sebagai pengendalian sosial untuk mewujudkan kerukunan hidup,kesejahteraaan,kedamaian dan kemakmuran, karna pada dasarnya Upacara Bersih Dusun diadakan dengan tujuan untuk permohonan selamat dan barokah terhadap hasil panen yang telah didapatkan oleh masyarakat serta rasa syukur masyarakat Dusun Tegalsari terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Kata Kunci : Budaya,Bentuk Pertunjukan,Nilai dan Makna Simbolik




PENDAHULUAN
        Dalam kehidupan manusia pada dasarnya adalah suatu usaha dan upaya memenuhi keinginan pada sesuatu yang lain dan menarik,yang dapat membuatnya terpesona.Rasa pesona manusia dapat terpenuhi lewat bentuk pementasan seni seperti seni lukis,seni music,seni busana ,seni sastra dan seni tari yang menggambarkan kejadian atau peristiwa kehidupan sehari-hari.
        Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhubungan dengan kebudayaan, salah satunya unsur penting dan universal kebudayaan adalah kesenian merupakan hasil karya manusia dalam usahanya memenuhi kebutuhan terhadap rasa keindahan.Kebutuhan rasa keindahan yang menimbulkan kesenangan dan kepuasan hati tidak hanya saja dibutuhkan oleh satu atau sekelompok manusia,tetapi merupakan kebutuhan setiap manusia,karena itu kesenian merupakan salah satu kebutuhan manusia yang universal.Dengan kesenian pula dapat memberi keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.
        Kebudayaan adalah pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol-simbol yang mereka terima tanpa sadar yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dan peniruan dari satu generasi ke generasi lain. Tradisi atau kebiasaan merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun temurun dimulai dari nenek moyang.Tradisi yang membudaya akan menjadi sumber  dalam berakhlak dan berbudi pekerti
        Kesenian yang hidup di Indonesia dikategorikan menjadi kesenian tradisonal dan kesenian non tradisional (kesenian modern).Kesenian tradisional adalah bentuk seni yang pengolahannya didasarkan pada cita rasa masyarakat pendukungnya yaitu : nilai hidup tradisi,pandangan hidup,pendekatan falsafah,rasa etis dan estetis serta ungkapan budaya lingkungan yang tidak lepas dari adat kebiasaan.Sedangkan kesenian modern adalah bentuk seni yang penggarapannya didasarkan cita rasa baru hasil dari pengaruh luar, dan dapat juga dari cita rasa barat (Kayam 2000:339).
        Dalam kegiatan upacara bersih dusun ini identik dengan merti dusun sehingga dapat diartikan yaitu masyarakat akan menjalankan ritual musik mistik, bak berupa slametan maupun pertunjukan spiritual dan juga membersihkan keramatan (kuburan) dan tempat-tempat khusu yang dianggap sacral dan harus dilestarikan.Pelaksanaan tradisi bersih dusun disetiap daerah memiliki makna dan fungsi yang berbeda-beda disetiap kegiatannya.Kegiatan-kegiatan dalam tradisi ersih dusun di Tegalsari sudah tersusun sedemikian rupa dan mengikuti perkembangan saat ini tanpa meninggalkan makna yang sesungguhnya.Kegiatan bersih dusun di Tegalsari antara lain kerja bakti,bersih kubur,doa bersama,kirab budaya,kenduri dan penampilan kesenian tari ledek dan wayang wajib dilaksanakan.
        Berkaitan dengan hal di atas penulis tertarik mengkaji sebuah kesenian tradisional yaitu, Upacara Besih Dusun Tegalsari di Desa Semin Kabupaten Gunungkidul.Banyak hal yang menarik untuk diamati dalam upacara Bersih Dusun Tegalsari di Desa Semin ini, baik dari bentuk pertunjukan yang memiliki unsur-unsur visual yang estetis maupun fungsi yang mengandung nilai-nilai pendidikan bagi masyarakat.Upacara Bersih Dusun Tegalsari selalu rutin dilaksanakan oleh masyarakat sekitar setiap setahun sekali,karena tujuan upacara bersih dusun merupakan media untuk memohon keselamatan dan berkah kepada Sang Pencipta.Masyarakat sekitar yakin bahwa setelah melaksanakan upacara bersih dusun akan terjadi perubahan kehidupan yang lebih baik nantinya.Segala keinginan masyarakat juga tercapai hidup rukun dan makmur.Fenomena ini yang menarik penulis untuk mengkajinya.
        Karena di jaman yang serba modern di era globalisasi ini banyak masyarakat yang kurang meminati budaya nasional,tetapi kesenian tradisional yaitu upacara bersih dusun Tegalsari masih bertahan dan tetap eksis.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1.      Untuk mendapatkan gambaran visualisasi upacara bersih dusun Tegalsari di Desa Semin Kabupatern Gunungkidul
2.      Untuk mendeskripsikan bentuk penyajian kesenian kirab budaya,tarian dan pementasan wayang di Dusun Tegalsari
3.      Untuk mengkaji atau memahami suatu fungsi serta makna upacara bersih dusun Tegalsari bagi masyarakat di dusun Tegalsari tersebut.

PEMBAHASAN
Pelaksanaan ptofesi tradisi upacara bersih dusun dalam pelaksanaanya dibagi menjadi 3 tahap yaitu tahap pendahuluan,tahap pelaksanaan dan tahap puncak.Tahapan dalam tadisi bersih dusun tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.    Tahap Pendahuluan
-          Mengadakan Musyawarah
Sebelum melaksanakan kegiatan bersih dusun warga di kumpulkan di balai dusun untuk dilakukan musyawarah tentang perlengkapan apa saja yang disiapkan untuk melaksanakan upacara bersih desa.Serta membayar iuran untuk kegiatan bersih dusun tersebut.
-          Kerja Bakti
Sebelumnya warga bergotong royong membersihkan tempat yang akan digunakan untuk melaksanakan upacara adat bersih dusun dan menyiapkan peralatan yang digunakan  untuk pelaksanaan upacara bersih dusun tegalsari,kemudian warga membangun sanggar kayu atau panggung untuk pertunjukan tarian pada siang harinya dan wayang malam hari.
-          Membuat Gunungan
Sebelum dilaksanakan upacara bersih dusun warga Tegalsari membuat gunungan dari hasil panennya.Gunungan tersebut dibuat oleh warga Tegalsari per RT dan membuatnya dengan sekreatif mungkin.Gunungan tersebut untuk dilombakan serta digunakan untuk kirab budaya di dusun Tegalsari.

b.      Tahap Pelaksanaan
Pada malam harinya sebelum dilaksanakan upacarabersih dusun warga melakukan tirakatan di balai dusun.Pada paginya warga melaksanakan kondangan di rumah RT masing-masing dengan membawa makanan berupa nasi dan lauk seperti tahu,tempe,bakmi dll serta ingkung (ayam utuh yang dimasak dan tidak dipotong-potong).Setelah itu berdoa bersama yang dipimpin oleh sesepuh di RT tersebut.Kemudian makanan yang dibawa saat kondangan tersebut dibagi-bagi kepada warga yang melakukan kondangan tersebut.Setelah itu pada siang hari warga berkumpul di balai dusun untuk melaksanakan upacara bersih dusun dengan berdoa bersama.Setelah itu warga bersiap-siap untuk datang kebalai dusun untuk dilaksanakan upacara bersih dusun tersebut.Warga membawa gunungan yang sudah dibuat dengan berbaris sesuai dengan tempat yang sudah diatur oleh kepala dusun.
Setelah warga sudah berkumpul di balai dusun acara dimuali dengan kata sambutan.Urutan sambutan dalam upacara bersih dusun Tegalsari yaitu sambutan ketua panitia yang intinya ucapan terima kasih kepada warga dusun yang telah melaksanakan upacara dengan baik dan tertib. Sambutan berikutnya dari kepala dusun,Desa,Kecamatan,kabupaten, dinas pariwisata dan dinas kebudayaan.Inti sambutan yaitu tetap mendukung adanya upacara bersih dusun Tegalsari tersebut supaya ditingkatkan dan sebagai perekat persatuan dan kesatuan.
Setelah kata sambutan selesai maka dilanjutkan dengan do’a. Do’a dalam upacara bersih dusun Tegalsari yaitu do’a agama islam karena di susun Tegalsari kebanyakan beragama Islam.Bunyi do’a tersebut sebagai berikut :
“Bismillahirohmannirrohiim.Allohuma solli ‘alla sayyidina muhammad, wa’ala allihi sayyidina muhammad wal’awalihi rodiyaallahi ta’ala, wal akhiri rosullillahi safa’ati rosullillahi ajma’in.alhamdulillah hirobbil ‘alamani, wassolotu ‘ala mursalin wa’ala alihi wasohbihi aj’main. Allohuma firli wal mu’minina wal mu’mininat, wal mussalimina wall muslimat al ahya minhum wal amwat, wa’ala alihi sai’in qodir, wa ma sholamina na anfusanna, wallatahgfirlana, warhama lanakunnana minal khosirin. Robbana azlana walihmatina, wa zuriyatina qurro a’yun, waj’alna lil muttaqina imama.Allahuma barikna ya ba’dal ma’na sura 11X. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirotil hasanah wa qina ‘adzabanar. Allahumma inna nasaluka sallamatan fiddien wa aaffijatan fil jasadi waziadatan fil ilmi wabarkatan fir rizki wa taubatan qablal maut wa rahmatan ‘indalmaut wa maghffiratan ba’dal maut wassalamu’alaikum warohmatullahi hiwabarokatuh”
Inti doa tersebut untuk meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya warga dijauhkan dari malapetaka dan mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal agar arwahnya diterima di sisi Tuhan.
c.       Tahap Puncak
Setelah dilakukan do’a warga berbaris dengan rapi untuk melakukan kirab budaya.Dengan rute memutari dusun dan kembali lagi ke balai dusun.













Gambar 1 Pada gambar diatas Genduri dilaksanakan di pinggir sungai yang dihadiri oleh semua warga masyarakat dusun tersebut. Namun, yang boleh menghadiri acara genduri tersebut hanya kaum laki-laki saja.Kegiatan genduri dimulai setelah acara kirab budaya selesai sampai dengan selesai.Para warga menghadiri genduri dengan membawa nasi dan ingkung (ayam yang dipanggang) lalu diletakkan di sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu atau biasa disebut.
Gambar 2 Pada gambar diatas warga melakukan kirab budaya dengan membawa gunungan yang telah dibuat untuk mengelilingi dusun Tegalsari tersebut.Kirab budaya dilakukan dengan menggunakan sragam yang sudah disepakati tiap RT.Pakaian yang dikenakan tiap RT juga berbeda-beda dan membawa alat dan perlengkapan sebagai atribut yang dapat menarik.









Gambar 3 Pada gambar diatas menunjukan warga merebutkan gunungan yang sudah dibuat.Warga berebut untuk mengambil gunungan yang berisi buah-buahan dan sayur-sayuran yang di jadikan gunungan tersebut.
Dalam kegiatan upacara bersih dusun tersebut juga mempunyai nilai tersendiri.Nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan upacara bersih dusun Tegalsari yaitu meilputi :
a.       Nilai Sosial
Yaitu masyarakat secara bersama-sama bekerja bakti membersihkan makan dan membuat umbul-umbul sehingga kebersamaan antar mereka tetap terjalin dengan baik.Masyarakat terbebas dari pegebluk dan seluruh dusun akan merasa aman.
b.      Nilia Religius
Yaitu hubungan manusia dengan tuhan dapat terjalin dengan baik jika mereka menjalankan agama dan tradisi upacara dusun setiaptahunnya.
c.       Nilai ekonomi
Yaitu dengan tetap melaksanakan upacara masyarakat akan lebih mudah dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya serta hasil panen akan meningkat di tahun depan.
d.      Nilai budaya
Yaitu dengan adanya tradisi upacara bersih dusun yang dilakukan di Dusun Tegalsari ini tentunya menambah budaya atau ciri khas tersendiri padi Dusun Tegalsari.Upacara bersih dusun ini menambah kearifan local di Dusun Tegalsari ini.
e.       Nilai hiburan
Yaitu masyarakat merasa terhibur dengan adanya upacara bersih dusun ini karena malam harinya ada pertunjukan wayang yang dapat dinikmati atau di saksikan oleh masyarakat setempat.Wayang tersebut diadakan untuk menghibur warga sebagai penghilang lelah masyarakat karan seharian berkeliling dusun dengan membawa gunungan.
f.       Nilai pendidikan
Yaitu dengan kegiatan tersebut masyarakt mendapatkan pengetahuan tentang upacara tersebut terutama kepada anak-anak muda yang ada di dusun Tegalsari terebut.

              Tidak hanya nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan upacara bersih dusun tetapi juga ada makna simbolik yang terdapat kegiatan tersebut.Seni dipandang ssebagai sebuah karya, adalah sesuatu symbol yang termasuk ke dalam perangkat symbol  pengungkapan perasaan atau symbol ekspesif. Seni adalah suatu kegiatan manusia menjelajahi dan dengan ini menciptakan ralita baru dalam suatu cara yang suprarasional dan berdasarkan penglihatan seta menyajikan realita itu secara simbolik.Simbolism dalam seni masih banyak dijumpai di masyarakat yang masih kuat memegang tradisi, seperti contoh upacara adat bersih dusun Tegalsari di Desa Semin sangat sakral dan bermakna, juga sebagai media “ngalap berkah” bagimasyarakatnya.Upacara bersih dusun itu juga bermakna sebagai rasa syukur masyarakat terhaadp Tuhan Yang Maha Esa atas karunia panen yang melimpah.Sebelum panen hasl bumi dibagi-bagikan kepada masyarakat, didahului dengan upacara penghormatan kepada pepunden di Dusun Tegal sari, antara lain Kyai Jigang Joyo, dan Nayi Gadung Mlati.

PENUTUP
      Kegiatan Upacara bersih dusun Tegalsari adalah upacara adat yang dilakukan di Desa Semin Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul.Adanya Tradisi bersih dusun Tegasari yang berkembang pada masyarakat desa Semin terdapat mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat.Aspek nilai-nilai budaya pada tradisi Tegalsari dapat dilihat dari prosesi atau pelaksanaan tradisi Tegalsari proses pembuatan gunungan yang dibuat oleh masyarakat dusun Tegalsari dibuat secara bersama-sama disuatu tempat yang sdah ditentukan oleh para pembuat.Dengan adanya tradisi bersi dusun ini dapat menumbuhkan sikap gotong royong masyarakat,sehingga silahturahmi antar earga dapat terbina dengan baik dan memperat tali persaudaran dalam masyarakat.Serta dapat meningatkan rasa syukur warga terhadap Sang pencipta atas karunianya yang memberikan hasil panen kepada masyarakat yang melimpah.







LAMPIRAN



.







DAFTAR PUSTAKA
Ayu amborowati.2013.Aspek Nilai-Nilai Sosial Pada Tradisi Bersih Desa Julungan (Studi Kasus Pada Pelaksanaan Kabupaten Karanganyar)[Skripsi].UMS:Surakarta
Teky Dwi Ana Sari.2006.Upacara Bersih Desa Tanjungsari di Dukuh Dlimas Desa Dlimas Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten (Kajian bentuk,fungsi dan makna simbolik)[Skripsi].UNS:Semarang












MERTI DUSUN KALIALANG, KALITEKUK, SEMIN, GUNUNGKIDUL



Lulu Afiah Jayusman
2017015032/6B

Abstrack
Merti dusun atau rasulan adalah bersih desa atau membersihkan desa, bersih desa dilakukan setiap setahun sekali yang dilaksanakan pada bulan yang ditentukan dan bertepaatan dengan hari Kamis pahing. Artinya membersihkan desa dengan cara menggelar acara wayang kulit, membuat sajian makanan nasi tumpeng dan ingkung serta terdapat ledek yang turut memeriahkan acara merti dusun. Ledek yaitu penari perempuan yang memakai baju kemben dan selendang. Menari dengan diiringi alunan musik dari gamelan. Penari tersebut berjoget dan biasanya dikelilingi oleh masyarakat tua atau muda untuk menemaninya menari atau sering disebut dengan istilah ngibing. Bagi masyarakat atau ibu-ibu yang mempunyai anak bayi sekitar umur 1 bulan – 5 tahun biasanya membawa anaknya kedepan penari untuk dicium oleh penari. Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kalialang adalah  balita yang dicium oleh penari konon katanya akan terhindar dari mara bahaya dan orangtua dari balita tersebut harus membawa beras segenggam dan gula jawa yang ditaruh diwadah. Beras dan gula jawa tersebut diberikan kepada penari, setelah itu penari akan menyebar beras tersebut secara cuma-cuma. Masyarakat membuat nasi tumpeng dan ingkung ayam kampung dikumpulkan di rumah kepala desa atau ketua RT setempat untuk diberi doa. Setelah dikumpulkan ingkung ayam tersebut dibagi rata lagi kepada masyarakat sekitar dan menyisakan sedikit bagian untuk dibuat sebagai sesajen yang diletakkan di pohon beringin besar. Setelah makanan tersebut diberi doa selanjutnya masyarakat membawa pulang kembali makanan tersebut kerumahnya masing-masing. Setelah itu dilanjutkan pada acara malam harinya yaitu pagelaran wayang kulit dan karawitan di balai desa. Budaya tersebut sudah menjadi tradisi oleh masyarakat Kalialang.
Kata kunci : Bersih, Membersihkan, Desa




A.    Latar Belakang
Kebudayaan di Indonesia sangat beraneka ragam salah satunya adalah adat istiadat yang sangat melekat dan turun termurun dari nenek moyang zaman dahulu. Seperti adat istiadat yang ada di desa Kalialang, Kalitekuk, Semin, Gunungkidul yaitu adat merti dusun atau bersih desa. Adat merti dusun ini dilaksanakan setiap setaun sekali pada bulan yaang ditentukan dan bertepatan dengan hari Kamis pahing. Adat tersebut sudah sejak dahulu dilakukan dan menurut kepercayaan masyarakat setempat bersih dusun dilakukan adalah untuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan nikmat berupa padi yang subur serta tanah yang subur. Dalam pelaksanaan bersih dusun tersebut terdapat acara yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kalialang, seperti pertunjukan wayang kulit, seni karawitan dan ledek (penari yang menggunakan pakaian kemben dan selendang). Cara tersebut dilakukan di balai desa setempat.
Masyarakat desa Kalialang setiap merti dusun selalu menyajikan hidangan seperti nasi tumpeng, ingkung ayam kampung, rempeyek dan buah pisang. Setiap rumah memasak sajian tersebut dan pada sore hari setelah sholat ashar sajian tersebut dibawa kerumah ketua RT untuk didoakan bersama-sama. Warga berkumpul dirumah ketua RT selain untuk mendoakan sajian makanan tersebut juga untuk menjaga silaturahmi antara warga. Setelah selesai lalu warga membawa pulang lagi sajian masakan tersebut dan dilanjutkan pada acara malam hari. Ketika malam hari seluruh warga berkumpul di balai desa untuk melihat pertunjukan wayang dan karawitan. Acara bersih desa ini sangat meriah karena wargaa sangat antusias dengan adat desa tersebut, mengingat adat tersebut dilakukan hanya dalam setahun sekali.
Adat merti dusun tersebut sudah menjadi adat turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Kalialang. Walaupun zaman sudah berkembang akan tetapi masyarakat Kalialang tidak meninggalakan adat tersebut. Adat ini sudah turun temurun dari zaman nenek moyang, sehingga saya sebagai anak muda yang akan meneruskan atau menjaga adat yang ada di desa Kalialang.
B.     Tujuan Penulisan
Penulisan tentang adat merti dusun yang ada di dusun Kalialang bertujuan untuk menambah wawasan dan ilmu saya tentang pentingnya adat istiadat yang ada di daerah. Selain itu penulisan ini saya lakukan untuk lebih mendalami makna yang terkandung dalam adat merti dusun di Kalialang. Dan penulisan ini saya buat agar orang lain membaca dan dapat mengetahui tentang adat yang ada di dusun Kalialang, dapat juga menambah wawasan pembaca.

ISI
Jawa merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia, hal ini menyebabkan suku ini memiliki budaya, kebiasaan, adat istiadat, makanan, ritual keagamaan yang sangat terkenal. Di dusun saya Kalialang juga mempunyai kebudayaan yang sudah turun menurun dilakukan oleh masyarakat setempat. Kebudayaan tersebut ialah merti dusun atau bersih desa. Bersih desa tersebut dilakukan setahun sekali pada bulan tertentu dan pada hari Kamis pahing. Bersih dusun tersebut menurut keyakinan masyarakat setempat adalah bukti rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat setempat dan dusun Kalialang. Ketika dalam upacara merti dusun terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat, yaitu : kegiatan pagelaran penari ledek, kenduri atau kondangan dan pagelaran wayang kulit.
Pagelaran penari ledek dilakukan dipinggir sungai yang ada di dusun Kalialang. Dalam pagelaran ledek tersebut mempunyai makna untuk menghibur warga masyarakat dusun Kalialang. Pagelaran penari ledek ini dilakukan atau ditampilkan pada siang hari. Masyarakat setempat beramai-ramai memadati tempat yang digunakan oleh penari ldek tersebut. Selain untuk melihat pertunjukan penari tersebut tidak jarang masyarakat ikut serta menari dengan penari ledek. Setelah penari ledek tersebut menari di pinggiran sungai lalu penari tersebut melanjutkan menari di balai dusun dengan diiringi musik gamelan. Gamelan adalah alat musik yang berasal dari daerah Jawa. Penari ledek menari mengikuti irama musik gamelan yang dimainkan oleh masyarakat sekitar. Penari ledek menggunakan pakaian kemben dan menggunakan properti selendang, selain itu penari ledek dirias dan menggunakan sanggul dan konde. Penari ledek biasanya berjumlah 2 sampai 3 orang tergantung masyarakat sekitar yang meminta. Selain berparas cantik penari ledek harus mempunyai sifat yang dibawakan ketika menari seperti sifat ramah tamah kepada masyarakat, murah senyum dan tidak kaku kepada masyarakat.
Ketika sudah memasuki waktu setelah ashar masyarakat berkumpul dirumah salah satu ketua RT untuk melaksanakan kenduri atau kondangan dengan membawa nasi tumpeng ingkung. Ingkung ayam kampung merupakan salah satu makanan khas Jawa yang berbahan dasar ayam yang dibumbui dan disajikan satu ekor utuh ayam tanpa dipotong. Nasi tumpeng ingkung ini mempunyai makna yang diyakini masyarakat setempat yaitu manusia diharapkan dapat berperilaku seperti ayam. Karena ayam jika diberi makanan tidaklah langsung dimakan akan tetapi akan dipilih dahulu mana yang baik dan mana yang tidak. Dengan demikian manusia diharapkan mampu memilih mana hal baik yang harus dilakukan dan mana hal buruk yang harus ditinggalkan. Kepala dusun memimpin acara kenduri tersebut dan diikuti oleh masyarakat setempat. Sebelum nasi tumpeng ingkung dibagikan kepada masyarakat dan dimakan bersama-sama kepala dusun terlebih dahulu mengajak masyarakat setempat untuk membaca doa terlebih dahulu dengan tujuan agar makanan tersebut berkah untuk masyarakat setempat. Setelah membaca doa masyarakat setempat secara bersama-sama memakan nasi tumpeng ingkung tersebut. Kenduri ini juga bertujuan untuk mengakrabkan warga setempat dengan cara berkumpul bersama dan dilanjutkan makan bersama. Kenduri atau kondangan ini tidak hanya diikuti oleh orang tua saja melainkan juga diikuti oleh anak kecil sampai dewasa. Semua ikut berkumpul untuk menjadi satu pada acara merti dusun yang dilakukan setahun sekali pada bulan tertentu dan pada hari tertentu.
Setelah kegiatan kenduri tersebut selesai selanjutnya pada malam hari dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang kulit dilakukan di  balai dusun Kalialang. Pagelaran wayang kulit ini mempunyai makna filosofi, ajaran-ajaran budi pekerti dan kebathinan, sekaligus menjadi wadah kepandaian atau kelebihan dibidang masing-masing sepeti dalang, sinden saat menembang lagu jawa, dalam bidang karawitan dan tontonan atau seni drama yang dibawakan oleh dalang agar masyarakat dapat memetik hikmah dari suatu cerita wayang yang dibawakan oleh dalang. Pagelaran wayang kulit ini sangat digemari oleh masyarakat setempat karena dapat menjadi nilai hiburan bagi warga sekitar, selain dapat menjadi hiburan bagi warga setempat pagelaran wayang ini juga dapat melestarikan budaya Jawa. Pagelaran wayang tidak hanya diminati oleh orang tua saja akan tetapi banyak juga anak muda yang menonton pagelaran wayang ini. Selain menonton pagelaran wayang tersebut anak muda juga menyimak cerita wayang yang dibawakan oleh dalang.
Dari ketiga rangkaian acara merti dusun tersebut mempunyai nilai budaya yang dapat dikembangkan oleh generasi penerus seperti anak muda. Generasi muda harus menjaga budaya yang ada di dusun setempat agar kedepannya budaya merti dusun tersebut dapat terus dilakukan oleh generasi penerus. Nilai budaya yang dapat dipetik dari budaya didaerah Kalialang yaitu kita sebagai generasi muda harus bisa menjaga dan melestarikan budaya yang telah dimiliki daerah kita. Selain dari nilai budaya terdapat pula nilai sosial yang dapat dipetik yaitu kita sebagai warga yang bermasyarakat harus pandai untuk bersosialisasi dengan warga lain. Dalam acara merti dusun ini kita dapat berkumpul dengan masyarakat setempat. Saling tolong menolong, gotong royong dan kekompakan warga sekitar dalam menyiapkan acara untuk merti dusun dengan tujuan untuk mengakrabkan warga setempat. Nilai agama yang dapat diambil dari budaya merti dusun di daerah Kalialang adalah masyarakat dapat menysukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan kepada warga setempat. Merti dusun dilakukan sebagai wujud rasa terimakasih kepada Tuhan karena telah diberikan nikmat yang berlimpah. Ketika acara merti dusun warga setempat yang memainkan alat musik tradisional menggunakan pakaian adat Jawa. Dengan menggunakan atasan kebaya dan bawahan jarik. Pakaian tradisional tersebut mempunyai nilai untuk nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa, agar budaya Jawa selalu dikembangkan dan diteruskan oleh generasi penerus.

1.      Anggota karawitan



2.      Penari ledek yang sedang menari di Balai desa

3.      Nasi tumpeng ingkung


4.      Pagelaran wayang kulit


C.     Kesimpulan
Dari penjabaran tentang budaya yang ada di daerah Kalialang dapat disimpulkan bahwa budaya tersebut sudah turun temurun dilakukan oleh masyarakat setempat. Budaya yang ada di dusun Kalialang salah satunya yang saya jabarkan adalah budaya merti dusun atau bersih desa. Merti dusun dilakukan sebagai wujud rasa bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan kepada warga masyarakat setempat. Budaya merti dusun tersebut sampai sekarang masih dilestarikan oleh warga setempat, acara merti dusun dilakukan setiap setahun sekali pada bulan tertentu dan pada hari yang jatuh pada Kamis pahing. Di dalam acara merti dusun terdapat tiga rangkaian acara yaitu pagelaran penari ledek, kenduri atau kondangan dengan membawa nasi tumpeng ingkung dan pagelaran wayang kulit. Nilai yang dapat diambil dari budaya merti dusun tersebut adalah kita sebagai generasi muda harus menjaga dan dapat melestarikan budaya yang ada di daerah setempat seperti merti dusun atau bersih desa.

            Sumber : wawancara dengan sesepuh desa pada tanggal 21 April 2019.

BERSIH DUSUN/ RASULAN DUSUN PLARUNG, DESA SAWAHAN, KECAMATAN PONJONG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, D.I. YOGYAKARTA



Oleh    : Tyas Saraswati
NIM    : 2017015027
Abstrak
Bersih desa merupakan salah satu tradisi turun temurun kebudayaan masyarakat tertentu. Kegiatan bersih desa digunakan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup kegiatan bersih dusun di Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.
Penelitian ini dilakukan dengan metode pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan, yaitu: bersih dusun dilaksanakan setiap tahun. Bersih dusun bertujuan untuk menghormati atau membantu mengirim do'a untuk penjaga desa yang tidak nyata. Untuk rasa syukur kepada Tuhan YME atas berkah yang diberikan selama ini dan sebagai ritual tolak bala agar terhindar dari mara bahaya. Melalui pola-pola kebudayaan ini manusia menafsirkan lingkungan alam dengan seluruh isinya, sebagai wujud bersatunya manusia dengan alam. Kerja bakti dengan seluruh warga dalam salah satu kegiatan bersih dusun merupakan contoh salah satu upaya yang harus dilakukan.
Kata Kunci: bersih desa.

 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Upacara
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk, beribu-ribu suku bangsa ada di dalamnya dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda. Keanekaragaman kebudayaan di Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai, dimana kekayaan itu perlu dilestarikan dan dikembangkan sehingga sifat kebineka tunggalikaan yang ada di Indonesia itu dapat dipahami terus dari generasi ke generasi.
Menurut Koentjaraningrat (1993:9), kebudayaan adalah “keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, berserta keseluruhan dari hasil budi dan karya”. Upacara tradisional sangat penting untuk orang jawa yang masih melestarikan tradisi leluhur. Upacara yang merupakan warisan leluhur yang telah berumur ratusan tahun sampai saat ini masih terjaga secara utuh, setiap 2 masyarakat memiliki tradisi dimana tradisi itu ada yang masih berlangsung hingga sekarang, ada juga yang hampir hilang bahkan ada yang telah hilang ditelan zaman. Upacara tradisi merupakan perwujudan bagian tradisi masyarakat yang sesungguhnya merupakan implementasi kebudayaan dari suatu masyarakat. Upacara tradisi merupakan upaya penyampaian pesan budaya yang telah lama digunakan jauh sebelum manusia mengenal tulisan, bahkan sebagian besar masyarakat tetap mempertahankan atau melestarikan upacara tradisi sebagai upaya berbagai kepentingan termasuk mempertahankan atau melestarikan budaya yang ada di masyarakat sesuai perkembangan globalisasi .
Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul mempunyai beragam budaya tradisi yang masih diselenggarakan secara turun temurun di tengah-tengah masyarakat, serta ditengah berkembangnya budaya manca negara yang bisa membuat lupa akan adat ketimuran, namun di wilayah ini di tiap desa mempunyai upacara tradisi yang tetap dilestarikan dan diselenggarakan secara rutin sampai sekarang. Seperti di dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, yang mempunyai tradisi bersih dusun dan sedekah bumi yang dinamakan Rasulan. Setiap warga memasak aneka olahan makanan, kemudian warga membawa masakan dibawa ke balai dusun yang digunakan sebagai tempat diadakannya kenduri dan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh dusun. Ritual bersih dusun Rasulan tersebut mengandung unsur-unsur simbolik yang memiliki makna tersendiri, di dalamnya termuat pesan-pesan tertentu yang ditujukan kepada individu atau kelompok. Simbol-simbol tersebut secara tidak langsung menghubungkan manusia dengan kekuatan yang ada di sekitarnya dan dengan Tuhan. Upacara ritual bersih dusun Rasulan merupakan pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan, sebelum pelaksanaan upacara bersih dusun penduduk dusun mengadakan persiapan yang cermat yang dipimpin olek sesepuh dan dibantu oleh panitia. Penduduk dusun bersama-sama membersihkan dusunnya secara fisik antara lain memperbaiki jalan , saluran irigrasi, membersihkan sungai dan pohon besar yang ada di sungai yang mereka sebut dengan Resan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui prosesi bersih desa/ Rasulan, ubarampe yang digunakan dalam prosesi bersih desa/ Rasulan tersebut,  nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan bersih desa/ Rasulan tersebut.
PEMBAHASAN
Banyak desa di Jawa yang masih setia melaksanakan upacara bersih desa, tetapi beberapa desa mempunyai waktu yang tetap untuk melakukan bersih desa tersebut berdasarkan bulan jawa, misalnya diadakan pada setiap bulan Suro atau Sapar. Oleh karena itu penting untuk mengetahui kalender Jawa, karena semua upacara tradisional dilaksanakan atas dasar perhitungan kalender Jawa. Menurut Negoro (2001:57-60), bersih desa adalah “upacara tradisional dimana para warga desa menyatakan syukur atas hasil panen yang baik sehingga mereka bisa hidup dengan bahagia mempunyai cukup sandang dan pangan, hidup selamat dan berkecukupan”. Kata lain untuk bersih desa adalah Merti Desa atau ada yang mengatakan Sedekah Bumi yang secara harfiah berarti sesaji kepada tanah (dimana mereka hidup).
Sebagai dusun yang masih memegang teguh nilai nilai budaya leluhur Dusun Plarung, Desa Sawahan, sangat memperhatikan kearifan nilai budaya lokal. Seperti pelaksanaan bersih dusun atau biasa disebut dengan Rasulan yang di laksanakan pada bulan Muharram atau bulan Suro meurut penanggalan Jawa. Disamping sebagai upaya pelestarian nilai nilai budaya lokal juga sebagai perwujudan dari rasa syukur kepada Tuhan Yang MAHA Esa yang telah memberikan ketentraman kepada masyarakat.
Ritual bersih dusun tidak selalu sama antara dusun satu dengan dusun yang lainya. Karena leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda beda. Bisa jadi ritual bersih dusun yang ada di dusun Plarung akan berbeda dengan ritual bersih dusun yang ada di luar dusun Plarung. Meski berbeda secara ritual  namun tujuannya adalah sama sebagai perwujudan sinerginya manusia  dengan alam.

Bersih dusun atau Rasulan di dusun Plarung dilaksanakan dalam tahapan:
1.      Sajen
Membuat sajen berupa ingkung, uduk (nasi uduk), kelapa muda (degan), banyu kendi (air kendi), jadah (dari beras ketan), pisang raja 1 tangkep, wajik (dari beras ketan), lempeng (dari singkong), jungkat suri cupu (sisir), panjang ilan (sajen berupa makanan-makanan).
Sajen-sajen tersebut kemudian dibawa ke pohon besar yang ada di sungai atau biasa disebut Resan, untuk disajikan kepada arwah nenek moyang yang berada di tempat tersebut. Filosofi dari adanya sajen adalah untuk menyedekahkan hasil bumi, sebagai bentuk rasa syukur karena telah diberi hasil panen yang melimpah dan berkah.
2.      Genduri
Genduri dilaksanakan di balai dusun Plarung yang dihadiri oleh semua warga masyarakat dusun tersebut. Namun, yang boleh menghadiri acara genduri tersebut hanya kaum laki-laki saja. Kegiatan genduri dimulai pukul 16.00 waktu setempat sampai dengan selesai. Para warga menghadiri genduri dengan membawa nasi dan ingkung (ayam yang dipanggang) lalu diletakkan di sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu atau biasa disebut tampah.
Setelah seluruh warga berkumpul, seluruh nasi ingkung tadi dikumpulkan jadi satu kemudian acara genduri dipimpin oleh ketua adat/ pemangku adat dengan membacakan do’a-do’a tertentu. Selanjutnya setelah selesai dido’akan oleh pemangku adat, seluruh nasi ingkung dibagi-bagi sesama warga yang menghadiri acara tersebut dengan filosofi supaya warga saling merasakan hasil panennya. Jika acara sudah selesai, warga masyarakat berbondong-bondong untuk pulang ke rumah masing-masing dengan membawa nasi ingkung yang telah mereka tukar sesame warga tadi.


3.      Tayub/ Ledekan
   Setelah acara genduri selesai, kemudian dilanjutkan dengan seni pertunjukkan tari atau disebut Tayub/ Ledekan. Kata  tayub  dari  bahasa  Jawa  terdiri  dari mataya yang  berarti  tari,dan guyub yang  artinya  rukun  bersama. Artinya,  pertunjukan  tayub  adalah  tari  yang  disajikan secara   bersama-sama   antara   penari   wanita   dengan   pengibing   sebagai   simbol kesuburan.   Relasi   antara   pelaku  upacara   dengan   warga   masyarakat   merupakan prasyarat  sahnya  sebuah  upacara,  terutama  makna  simbolis  penari  tayub  sebagai media  pengantar  upacara  dan pengibing sebagai  wakil  jemaat,  yakni  sebuah  ritus yang  bersifat  magis  simpatetis  atau  magis  yang  mempengaruhi  kesuburan  manusia  dan  alam  sekitarnya. Di  samping  fungsi  ritualnya,  kesenian  tayub  memiliki  fungsi sosial    sebagai  sebuah  hiburan  bagi  masyarakat,  terutama  para  pengibing  dari kalangan  laki-kali,  sehingga  kesenian  tayub  juga  disebut  sebagai  tari  pergaulan  pria dan    wanita.  Eksistensi    tayub    sebagai    ekspresi    kolektif    pada    hakekatnya mencerminkan aktualisasi eksistensi estetis, eksistensi etis, dan eksistensi religious.
Nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan bersih dusun/ Rasulan:
1.      Nilai Sosial
Dengan adanya kegiatan bersih dusun/ Rasulan dapat menumbuhkan sikap gotong royong masyarakat, sehingga silaturohmi antar warga dapat terbina dengan baik dan mempererat tali persaudaraan dalam masyarakat.
2.      Nilai Budaya
Dengan adanya kegiatan bersih dusun/Rasulan dapat menambah keanekaragaman budaya tradisional di dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.
3.      Nilai Pendidikan
Menambah pengetahuan bagi masyarakat lokal maupun masyarakat lain tentang keanekaragaman budaya yang ada di sekitar kita.
4.      Nilai Spiritual
Dengan diadakannya kegiatan bersih dusun tersebut, masyarakat menjadi lebih bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah diberikan ketentraman di dusun tersebut, dan juga bersyukur karena telah diberikan hasil bumi yang berkah.
5.      Nilai Ekonomis
Dalam kegiatan bersih dusun ini, masyarakat lebih banyak memanfaatkan atau menggunakan bahan dari hasil panen/ hasil bumi mereka, sehingga menjadi lebih ekonomis.
6.      Nilai Hiburan
Masyarakat setempat atau daerah lain merasa terhibur dengan adanya kegiatan bersih dusun ini, karena pada malam hari terdapat tayub/tarian yang dilaksanakan di balai dusun. Biasanya maasyarakat menyaksikan pertunjukan tersebut dengan keluarga maupun sanak saudaranya.
            Kegiatan bersih dusun/ Rasulan ini memiliki makna atau filosofis, yaitu sebagai perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan ketentraman pada masyarkat tersebut, diberi kesehatan, dan diberi hasil yang baik disetiap pekerjaan yang dilakukan masyarakat tersebut. 

Ritual bersih dusun tidak selalu sama antara dusun satu dengan dusun yang lainya.Karena leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda beda.Bisa jadi ritual bersih dusun yang ada di dusun Plarung akan berbeda dengan ritual bersih dusun yang ada di luar dusun Plarung. Meski berbeda secara ritual  namun tujuannya adalah sama sebagai perwujudan sinerginya manusia  dengan alam. Bersih dusun atau Rasulan di dusun Plarung dilaksanakan dalam tahapan: Pemberian sajen, genduri, dan tayub/ledekan.
Dari uraian diatas penulis berharap agar pembaca dapat mengetahui kebudayaan di daerah masing-masing, berusaha melestarikan kebudayaan tersebut, dan bangga akan keanekaragaman budaya di Indonesia.
  
http://senseleaf.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli.html.

TRADISI NYADRAN DI MAKAM SEWU DIWIJIRWJO PANDAK BANTUL

Oleh : Febriana SiskaWati (2017015260) Febrianasiska123@gmail.com Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ABSTRAK Tulisan ini m...